Ada uang Abang disayang, nggak ada uang Abang ditendang

Apakah ini humor gelap yang abadi? Sampai hari ini, bukan hanya masih suka tertera di pantat truk antar kota, tapi juga terjadi di dunia nyata. Sadis. Bagaimana kalau diganti dengan pameo ini:

Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.

Kalau yang ini, kesannya ironi. Pilu. Walau “benang merahnya” masih sama: mendewakan uang. Idealnya, tentu ada yang tidak bisa dibeli dengan uang. Contohnya: integritas. Sayangnya, sifat itu semakin jarang terlihat dalam bangsa ini. Pameo di atas (setidaknya) bisa lebih terasa optimis dan berintegritas jika dibalik, “segalanya butuh uang, tapi uang bukan segalanya”.

Uang- yang konon kabarnya pertama kali digunakan oleh bangsa Lydia (sekarang Turki) di tahun 650-600 SM- semakin menjadi oksigennya kehidupan. Dalam kancah politik dan pemilu, uang bukan hanya berperan, tapi mendominasi. Sejak mendaftar sebagai caleg, biasanya diharuskan “menyetor” ke partainya. Besarnya “setoran” menentukan tingginya urutan. Belum lagi kebutuhan pembuatan kaos, spanduk, baliho dan instrumen pemasaran lainnya (membiayai kegiatan pemuda, kompetisi olahraga). Keputusan Mahkamah Konstitusi yang memutuskan bahwa Caleg yang terpilih adalah yang memiliki suara terbanyak bukan berdasarkan nomer urut menyebabkan uang yang sudah disetor ke partai menjadi sia-sia. Caleg apes.

Dan ketika mendekati hari pencontrengan (dulu pencoblosan), biasanya masih ada “serangan fajar”  berupa bagi-bagi uang atau sembako. Ada beberapa sikap masyarakat. Pertama, menerima uang dan memilih yang memberikan uang. Rasa hutang budi dan terima kasih banyak berperan di sini. Kedua, menerima uang tapi tidak memilih yang memberi uang. Penyebabnya, di antaranya karena memang hanya menginginkan uangnya saja; atau bisa juga karena setelah menerima uang dari caleg A, datang caleg B yang memberikan uang lebih banyak. Sikap ketiga, tidak menerima uang. Tentunya ini yang ideal. Urusan hati, tidak bisa dibeli.

Sepertinya tidak salah kalau kita berasumsi bahwa pihak yang melakukan politik uang (baca: serangan fajar) sedang meletakkan batu pertama pada istana korupsinya. Sederhana saja, ketika nanti terpilih tentu dia akan berupaya sekuat tenaga mengembalikan pundi-pundinya yang hilang. Uang yang ditanam harus kembali dan berbunga. Bagi sebagian orang, berpolitik sama artinya dengan berinvestasi: ada untung dan rugi (untuk pribadi tentunya). Urusan rakyat minggir lagi.

Sinisnya, politik sama dengan uang.

Jika Alfred Nobel melalui yayasannya memberikan hadiah “nobel” kepada para ilmuwan yang berkarya demi kemaslahatan orang banyak, ekses dari kekecewaan terhadap penggunaan dinamit yang ditemukannya disalahgunakan oleh sebagian orang. Pertanyaannya, apakah yang dirasakan bangsa Lydia sekarang terhadap peran uang yang rasanya seperti minum air laut?

Semakin banyak uang dicari, akan semakin kurang.

 

ditulis oleh Cholil Mahmud

diedit oleh Harlan Boer

dimuat di Harian Kompas, Sabtu 7 Februari 2009

Kirim Tanggapan