“Bagaimana kreatifitas menjadi ujung tombak dalam menyusun strategi pengembangan wilayah. Agar kami percaya diri dan memiliki jati diri yang kuat.”

 

Judul diatas adalah tema ulang tahun dari sebuah desa yang terletak di daerah Jatiwangi, Majalengka, provinsi Jawa Barat. Sebuah desa yang saya nilai memiliki tata kelola ‘pemerintahan’ yang baik, aktifitas seni yang dinamis, penduduk setempat yang ramah dan masakan tradisional yang enak. Beberapa penggiat seni mungkin sudah tidak asing lagi dengan desa ini, ya, selamat datang di desa ‘kreatif’ bernama Jatisura.

Dan pada tanggal 5 Mei 2013 kemarin, menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagi saya (secara pribadi) yang tergabung dalam rombongan Efek Rumah Kaca untuk turut memeriahkan puncak penyelengaraan acara ulang tahun desa yang ke-111 tersebut. Acara berlangsung sangat meriah, dan saya melihat semua elemen masyarakat desa Jatisura turut berpartisipasi didalamnya. Entah kenapa saya merasakan sebuah suasana kekeluargaan yang cukup erat, nyaman sekaligus teratur, saya seperti ada di rumah.

‘Desa merupakan sebuah sistem yang unik dimana desa dengan sejarah sistem yang panjang dan tradisional tetapi sekaligus memiliki nilai nilai yang sangat modern. Desa memiliki sistem demokrasi tertua yang ada di Indonesia. Sistem demokrasi yang khas lebih kepada demokrasi kekeluargaan yang erat. Selayaknya bahwa kita harus bersyukur masih mengenal sistem pemerintahan seperti pemerintahan desa, bahwa pemerintahan desa dengan otoritasnya memiliki hukum dan kebijakan yang cukup untuk mengolah daerahnya sendiri. Walaupun hukum dan kebijakan itu masih terkait dengan pemerintahan yang lebih tinggi tetapi bahwa desa dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai instrument terdepan pelaksana hukum dan kebijakan sebuah Negara membuat pemerintahan desa lebih leluasa mengimplementasikan kebijakan kebijakan itu.

Maka memang sepatutnya dengan melihat potensi potensi di atas wacana reformasi, wacana perubahan sebuah Negara kearah yang lebih baik haruslah tidak melupakan reformasi di tingkat struktur Negara yang terkecil yaitu di desa desa. Para cendikiawan, akademisi, ilmuwan, politikus, agamawan, negarawan dan budayawan sampai mahasiswa di setiap jaman terus menerus menyumbangkan ide dan gagasan gagasannya berusaha dengan berbagai caranya bergandengan tangan dengan penguasa mengusahakan kemajuan kearah yang lebih baik. Berusaha memikirkan, mempengaruhi dan memperbaiki kebijakan kebijakan dan hukum kearah yang lebih baik untuk sebesar besarnya kesejahteraan rakyat. Dan bahwasanya dengan keunikan sistem otonomi desa, seyogyanya para pemikir, ilmuwan, akademisi, budayawan, negrawan bahkan mahasiswa kembali kepada berusaha bergandengan tangan dengan berbagai cara untuk memikirkan, mempengaruhi, memperbaiki, merubah pemerintahan desa kearah yang lebih baik di wilayah masing masing.

Dengan menggunakan semua potensi baik dan jaringan saling bertukar memperbaiki wilayah desa desa. Karena desa desa adalah asal muasal Negara ini maka untuk memperbaikinya pun kita harus kembali kepada asal muasal. Ketika akar akar yang kita perbaiki maka hasilnya adalah buah.’ ~ desajatisura.wordpress.com

 

Desa Jatisura memang sudah bertitel Desa Wisata dan sering didatangi banyak penggiat seni di berbagai bidang. Warga desa Jatisura tidak hanya berlaku sebagai tuan rumah yang hanya menjamu tamu layaknya di tempat – tempat wisata, disini warga desa sudah biasa berbaur dengan seniman-seniman tersebut, bahkan mampu berkolaborasi. Para seniman, warga desa, pemerintah desa, dan orang-orang yang peduli duduk bersama membicarakan topik tertentu yang biasanya berkaitan dengan desa.

Saya belum pernah menemui desa yang memiliki kreatifitas seni yang sangat produktif seperti desa Jatisura, yang mampu mengajak semua elemen masyarakat untuk turut aktif didalamnya. Rasa penasaran saya untuk mengetahui lebih jauh tentang Desa Jatisura tertuang dalam sebuah wawancara singkat saya dengan Ami, seorang penggiat seni sekaligus salah satu generasi muda penggerak berbagai kegiatan seni di Desa Jatisura.

Berikut petikan wawancaranya :

Jatisura telah memasuki usia ke-111, dan warga setempat memeriahkannya dengan sebuah kegiatan ‘seni’, yang menurut saya mampu menggandeng semua elemen masyarakatnya dengan sangat baik dan maksimal, Bagaimana caranya mengajak warga desa untuk berperan aktif dalam setiap kegiatan seni di Jatisura? Adakah sebuah sosialisasi tentang seni yang diberikan secara ‘intens’ kepada warga desa Jatisura untuk memaknai fungsi seni terhadap kehidupan mayarakat ?

Saya kira mugkin ini salah satunya karena warga dan kami tentunya rindu sekali berkumpul dan bergembira bersama. Terutama bagi jatiwangi yang berkarakteristik masyarakat industri. Untuk itu kami di JAF bersama kepala desa jatisura selalu mengadakn kegiatan seperti ini, karena kami ingin terhubung kembali satu sama lainnya. Dan ini terasa sekali setelah ada JAF. Sejak pertama berdiri tahun 2005 JAF dan Jatisura terus coba melibatkan warga dalam berbagai kegiatan seni budaya seperti festival, pameran, pertunjukan musik, residensi seniman, workshop dsb. Sebagai cara dalam memetakan kembali potensi jatiwangi dan menjalin keterhubungan lagi antar warga.

Saya sering mendengar berbagai festival seni yang aktif diadakan oleh Jatiwangi Art Factory (JAF) di Jatisura, Dan saya juga melihat kepala desa sangat dicintai oleh warga setempat, sejauh mana peran JAF dan kepala desa terhadap kemajuan aktifitas kesenian di Jatisura?

Sejak JaF berdiri pergerakan jatiwangi mulai signifikan, karena memang sebelumnya tidak ada yang memulai. Apalagi lewat jalur seni. Nah kepala desa jatisura yang sekarang termasuk salah satu pendiri JAF sebelum dia menjabat menjadi kepala desa. Jadi memang sudah bersekongkol sejak awal.haha. Ditambah sekarang Camat nya juga Juara Dunia, Kapolseknya sama Danramil nya juga siap tancap gas. Jadi makin mudah dalam melakukan provokasi kreatif. Sekarang tidak hanya Jatisura tapi hampir seluruh desa di Kecamatan Jatiwangi mulai kita libatkan. Walau tentu saja PR nya masih banyak…heuheu

Bagaimana peran generasi muda di Jatisura terhadap aktifitas – aktifitas desa, seperti menjaga keamanan, kebersihan, dll ? Bagaimana cara mengorganisir/mengajak para pemuda tersebut untuk mau berperan aktif dalam setiap kegiatan di Jatisura?

Justru generasi muda termasuk generasi yang paling sulit untuk dilibatkan. Karena di daerah setengah kota setengah desa seperti jatiwangi, anak muda terlalu terpengaruh oleh budaya pop global, hingga seperti tidak betah untuk tinggal di desa, selepas sekolah rata2 ingin mencari peruntungan di kota. Padahal kita tahu sendiri apa yang terjadi di Jakarta. Untuk itu kita coba bikin The People Clay dan Program Open Mic Good Afternoon. Salah satunya ya untuk memberi ruang pada generasi muda untuk menyalurkan ekspresinya menjadi aktifitas kreatif. The People Clay juga coba menjembatani komunikasi antara generasi muda dan tua di jatiwangi. Membuat lagu bersama, menyanyikannya dan bergembira bersama. Harapannya ini tidak hanya jadi grup musik. Tapi keluarga baru yang membuat kita tetap betah tinggal di Jatiwangi 😀

Tema acara sangat menarik dan menyentil, ‘Sebelum Semuanya Menjadi Jakarta’. Bisa diceritakan mengenai konsep dan ide dasar dari tema tersebut?

Sebenarnya tema itu berangkat dari kegelisahan Kepala Desa (Kuwu) Jatisura, yang tentunya juga menjadi kegelisahan kami semua disini. Saya kira tak ada satu daerah pun yang mau menjadi sekompleks/serumit Jakarta. Namun lebih jauh tema ini berbicara tentang pendidikan keterampilan. Bagaimana kreatifitas menjadi ujung tombak dalam menyusun strategi pengembangan wilayah. Agar kami percaya diri dan memiliki jati diri yang kuat. Biar bisa mengepung Jakarta hahaha

Puncak acara ulang tahun kemarin juga terdapat sebuah penghargaan kepada masyarakat melalui Jatisura Award. Sejak kapan Jatisura Award berdiri? Apa sajakah kategori2 yang ada dalam penghargaan Jatisura Award?

Saya lupa tepatnya kapan, hanya yang jelas semenjak Pak Ginggi (Kepala Desa yang sekarang) menjabat baru ada Jatisura Award. Kalo tidak salah Pak Ginggi diangkat pada tahun 2008. Namun secara pribadi saya setuju sekali, karena penting sekali kita sebagai warga memberi penghargaan kepada orang yang telah membangun desanya. Agar kebaikan kembali tersebar dan menjadi inspirasi bagi warga lain.

Terakhir, apakah harapan/keinginan dari generasi muda khususnya, terhadap pembangunan desa Jatisura di masa depan?

harapannya apa ya… hmmm.. tetap bisa berkumpul, berbahagia dan saling memberi kebaikan 😀

Video Efek Rumah Kaca – Di Udara Live di Ulang Tahun ke-111 Desa Jatisura

 

http://www.jatisura.com/

http://jaftv.tumblr.com/

http://jatiwangiartfactory.wordpress.com

 

Ada satu hal lagi yang menurut saya menarik untuk disimak. Sepengetahuan saya, jika elemen pemerintah sebuah desa mengadakan suatu even musik di desanya pasti tidak akan jauh dari hingar bingar alunan melodi Orkes Musik bernafaskan dangdut, rockdut ataupun nada-nada glamour ala disko – disko pantura. Disini, seorang Camat bermain band, dan saya berpendapat jika musiknya ‘digarap’ lebih serius lagi akan sangat berpotensi untuk menjadi suatu karya yang sangat – sangat bagus. IMHO.

Simak 2 video dibawah ini 🙂

 

 

 Saya berbisik dalam hati, ah.. andai saja semua desa di Indonesia memiliki kemandirian seperti ini.

Oleh : Rossi Rahardian – Foto oleh : Akrom Aco –

Kirim Tanggapan