Lokananta. Sebuah kata asing bagi sebagian orang, yang dalam beberapa bulan kemarin terdengar atau terbaca kembali dari beberapa situs media lokal, blog, facebook, ataupun dari hashtag di twitter. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Lokananta berdefinisi sebagai ‘seperangkat gamelan di kayangan yang dapat berbunyi sendiri tanpa penabuh’,  gaib! konon, hanya kesatria tertentu yang mampu mendengar bunyi dari gamelan tersebut. Dan Bahasa Sansekerta memaknakan Lokananta sebagai suatu tempat berkumpulnya para dewa. Belum ditemukan definisi sahih lain yang mampu memberi makna baru dari sebuah kata ‘Lokananta’ selain dua definisi diatas.

Pandai Besi adalah tukang (orang) yang bekerja menempa besi dengan menggunakan api untuk membentuk besi yang ditempanya menjadi suatu benda yang diinginkan, seperti belati, pedang, pisau, dan lain lain. Seorang ahli pandai besi biasanya memiliki otot yang kekar atau badan yang kuat, dikarenakan cara mereka bekerja 90% bersumber dari otot dan kekuatan tubuh. Pada jaman para raja, seorang pandai besi berhubungan erat dengan kesatria kesatria dan prajurit, karena dari tangannya lah tercipta pedang, tombak, panah dan berbagai macam senjata. Senjata senjata yang memang sengaja diciptakan untuk menggoreskan darah dan sejarah.

——

Lalu apakah koneksifitas dari Pandai Besi dan Lokananta ?

23 Januari 2013, Efek Rumah Kaca merampungkan sebuah konser mini tunggal di Rolling Stone Café yang terletak di jalan Ampera Raya no.16 Jakarta Selatan, dan malam itu membuahkan  catatan istimewa bagi pencapaian band ini sendiri.  Mengapa istimewa? Karena mereka tampil selama hampir dari 3 jam, atau lebih tepatnya 2 jam 40 menit. Sebuah durasi konser panjang yang sama sekali belum pernah mereka lakukan semenjak band ini terbentuk pada tahun 1999.
Bermodalkan hanya dengan 2  album yaitu ‘Efek Rumah Kaca’ (2007) dan ‘Kamar Gelap’ (2008), tentu saja dengan durasi sepanjang itu terlalu berlebihan untuk bermain selama hampir 3 jam, karena jika mereka memainkan keseluruhan lagu di 2 album tersebut durasi yang dibutuhkan tidaklah sampai sepanjang 2 jam 40 menit.

Ada yang berbeda dari Efek Rumah Kaca malam itu. Dalam beberapa sesi dari konser tersebut, mereka tidak tampil (cuma) ber-tiga yang seperti biasa sering kita lihat. Selain mempresentasikan 2 lagu baru dari album yang akan datang,  malam itu mereka juga banyak memainkan komposisi musik yang  ‘tidak asing’ namun berdurasi panjang, sisi instrumentalia lebih dominan dan eksplorasi nada lebih dikedepankan. Ya,  ternyata mereka menempa kembali  beberapa lagu dari 2 album terdahulu menjadi suatu karya yang sama sekali berbeda (secara musikal), namun tidak kehilangan esensi orisinalitas-nya. Kali ini Efek Rumah Kaca tidak minimalis, mereka tampil ber-enam, ada 3 tenaga baru turut memaksimalkan ruang ruang eksplorasi, dan formasi ini mereka namai ‘Pandai Besi’.  

Secara personal, mereka telah bermutasi dan bergerak maju untuk menelusuri celah kreatifitas yang lebih dalam , serta (sepertinya) gebrakan ini akan membuka gerbang baru bagi musikalitas Efek Rumah Kaca sendiri.

——

Solo, 29 Oktober 1956, sebuah perusahaan rekaman dan pabrik piringan hitam milik pemerintah yang  pertama di Indonesia resmi berdiri.  Pada awalnya pabrik ini berstatus Dinas Transkripsi sebagai bagian dari Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI)  yang bertugas memproduksi piringan hitam untuk bahan siaran RRI ke seluruh Indonesia, produksi awal mereka adalah lagu lagu keroncong dan lagu lagu daerah dari pelosok negeri, termasuk rekaman rekaman pidato Presiden Soekarno, serta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

| R. Maladi, Direktur RRI Jakarta saat itu pun terlihat resah melihat kenyataan bahwa lagu Barat mendominasi pasar pendengarnya. Maladi lalu menginstruksikan kepada 49 jaringan RRI di seluruh Indonesia untuk mengirimkan rekaman lagu daerah masing-masing. Setiap stasiun lokal minimal mengirimkan dua buah lagu.
Dalam waktu singkat, RRI memiliki 98 buah lagu daerah dari seluruh pelosok Nusantara. Seluruh koleksi itu akhirnya diperbanyak dalam bentuk piringan hitam dan disebarkan kembali ke seluruh cabang RRI di seluruh Indonesia. Pabrik pengganda piringan hitam yang awalnya hanya memenuhi kebutuhan siaran RRI inilah cikal bakal Lokananta.
Maladi, yang pernah diangkat menjadi Menteri Penerangan selama dua periode (Kabinet Kerja I dan Kabinet Kerja II), bersama dua rekannya R. Oetojo Soemowidjojo dan R. Ngabehi Soegoto Soerjodipoero yang masing-masing menjabat sebagai Kepala Studio dan Kepala Teknik Produksi RRI Surakarta pun berinisiatif mendirikan pabrik piringan hitam milik pemerintah. Akhirnya, tepat pada tanggal 29 Oktober 1956 pukul 10 pagi waktu Jawa (sekarang WIB), Lokananta resmi berdiri di Solo. Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementrian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta, begitu nama lengkapnya.|
 
Dikutip dari : http://rollingstone.co.id/read/2012/10/27/145255/2073969/1100/lokananta-menyelamatkan-musik-indonesia

 

Sebagai label rekaman, Lokananta telah melewati masa keemasan, dimana studio ini banyak sekali merilis karya cipta musik nusantara yang terdiri dari berbagai macam “genre”  , ada lagu – lagu daerah, keroncong hingga lagu-lagu Indonesia populer.  Lokananta adalah ground zero industri rekaman musik kita,  tercatat banyak melahirkan karya ‘masterpiece’ dari musisi dan penyanyi legendaris Indonesia. Diantaranya Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Bubi Chen, Oslan Husein, Zaenal Combo, Eka Sapta, Benyamin S, Elly Kasim & Orkes Gumarang, Jack Lesmana dan masih banyak lagi.

Seiring berjalannya waktu, Lokananta mengalami banyak sekali pergolakan di dalamnya. Mulai dari berpindahnya produksi piringan hitam menjadi kaset, kurangnya perhatian dari pemerintah,  serta sistem pengarsipan yang cenderung lambat, dan puncaknya adalah masalah pembajakan yang membuat Lokananta sebagai label musik mengalami penurunan penjualan produk.

 

| Merujuk pada disertasi berjudul Lokananta: A Discography of The National Recording Company of Indonesia 1957-1985 dari Philip Yampolsky, di University of Wisconsin, ada sekitar 5 ribu judul lagu yang tersimpan dalam 40 ribu piringan hitam (vinyl). Puluhan ribu vinyl  itu berada dalam situasi mengenaskan. Keping vinyl yang sensitif pada suhu tropis hanya disimpan di ruangan bersirkulasi udara minim. Untuk mengusir bau apek dan serangga, digunakan teknik tradisional. Bubuk kopi dicampur kapur barus.
Padahal dalam keping-keping itu, ada sejarah bangsa ini. Lagu “Terang Bulan” dan “Rasa Sayang E”, yang sempat membuat tensi hubungan Indonesia-Malaysia meninggi, dapat ditemukan disini. Sebelum politisi Roy Suryo mengklaim menemukan lagu Indonesia Raya dalam tiga stanza, Lokananta sudah menyimpannya dengan baik. Ada pula rekaman pidato presiden Soekarno di Konferensi Asia Afrika 1955. Tentu kita tidak ingin kalau artefak-artefak sejarah itu harus berakhir di tangan jamur dan ngengat bukan ? |
Dikutip dari : http://www.jakartabeat.net/musik/kanal-musik/ulasan/item/526-arsip-musik-indonesia-upaya-melawan-lupa.html?tmpl=component&print=1#.UQ7uL3LlYjA

Menemukan Kembali Sisa Kejayaan

Dalam salah satu wawancara di www.tempo.co , penyanyi kenamaan Glenn Fredly menjelaskan bahwa kualitas suara yang dihasilkan dari hasil rekaman di Lokananta sangat memuaskan, terutama di sisi akustik yang menurut dia tidak ada bandingannya dengan studio manapun. “Studio-studio di Jakarta tidak bisa menandingi kualitas akustik di Lokananta,” ujarnya bersemangat. Dan pada bulan Maret tahun 2012, Glenn Fredly telah berhasil merekam 12 lagu di studio Lokananta ( 12 lagu yang diambil dari 10 album yang pernah ia rilis) . Dengan format DVD Live, karya itu diluncurkan secara resmi pada tanggal 2 Oktober 2012 dengan judul ‘Glenn Fredly and The Bakucakar Live From Lokananta’ .

Kabar segar berhembus dari sektet kebanggaan kota Jakarta, White Shoes And The Couples Company (WSATCC), mereka akan segera merilis sebuah mini album yang telah mereka rekam di studio Lokananta.  Beberapa lagu daerah dibawakan dengan versi mereka sendiri, WSATCC terinspirasi untuk mengaransemen kembali lagu-lagu daerah dikarenakan  mereka memang  gemar mendengarkan dan mengoleksi beberapa rekaman serta rilisan lagu-lagu daerah dari para musisi lokal era 60-70an dimana sebagian besar rilisan tersebut memang berasal dari Lokananta. Jadi, mini album ini seperti  sebuah bentuk penghormatan besar WSATCC kepada sejarah musik Indonesia.

 | “Pada dasarnya kami mengagumi karya-karya dari musisi kita di masa lalu, dan kami selalu berminat untuk mencari tahu seperti apa karya-karya musisi Indonesia dulu. Dari sana kami mendapatkan pengalaman mendengarkan musik-musik hebat yang diciptakan musisi kita. Diantaranya adalah mereka yang pernah merekam musiknya di Lokananta, seperti; Zaenal Combo, Remadja Bahana, Saimima Bersaudara, Bing Slamet, juga maestro jazz kita, Bubi Chen. Secara personal karya-karya mereka turut menginspirasi kami dalam proses berkarya dan banyak menambah wawasan pengetahuan kami. Kami sangat beruntung bisa melakukan rekaman di tempat para idola kami dulu melakukannya juga..” ~ WSATCC |

 Dikutip dari : http://www.jakartabeat.net/idea/kanal-idea/interview/item/1618-pengarsipan-musik-indonesia-parah.html?tmpl=component&print=1#.UQ9e-_Lz6J0

 

Seolah berjalan tertatih tatih, Lokananta adalah sosok tua yang masih mampu berdiri tegap mengarungi pergantian jaman, tembok lusuh didalamnya adalah saksi sejarah berkembangnya sebagian besar kebudayaan seni musik bangsa ini. Ia adalah induk semang  atas banyak lahirnya karya legendaris anak – anak nusantara.

Dan dibalik gemerlapnya industri modern tanah air sekarang, sosok tua ini akan selalu diam menunggu, menunggu talenta dari ksatria ksatria baru untuk memapahnya bangkit lagi, bangkit berdiri untuk mengambil kembali kejayaan masa lampau yang telah hilang.

 ——-

 Dari napak tilas jejak rekam  diatas,  si  “Pandai Besi”  telah melakukan persiapan panjang  untuk merekam hasil karya mereka,  latihan intensif sudah diberlakukan sejak bulan puasa tahun lalu (dengan menempa lagu-lagu dari album pertama dan kedua dari Efek Rumah Kaca),  Pandai Besi akan melakukan rekaman di Studio bersejarah yang memiliki luas 14 x 31 meter tersebut.

Sembilan lagu terpilih akan direkam secara Live oleh Pandai Besi yang terdiri dari Cholil Mahmud (gitar, vokal),  Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar), Airil “Popie” Nurabadiansyah (bass, vokal latar),  Andi “Hans” Sabarudin (gitar,vokal latar), Muhammad Asranur (piano, keyboard), dan Agustinus Panji Mahardika (terumpet).

Rekaman akan dilakukan secara marathon,  terhitung mulai tanggal 9 maret  – 12 maret 2013. Selain rekaman audio akan dilakukan juga rekaman visual dari seluruh kegiatan, baik selama rekaman maupun diluar rekaman yang nantinya terangkum dalam sebuah mini dokumenter.

Jika diibaratkan dalam sebuah kisah dongeng, maka si Pandai Besi akan melakukan sebuah perjalanan historis, mereka akan memasuki lorong waktu untuk menempa kembali besi besi nya, mencetak suatu karya tepat di suatu tempat yang konon di masa lampau banyak melahirkan kesatria kesatria bertalenta.

*Bersambung..
Nantikan artikel bagian kedua yang akan terdapat sesi wawancara dengan para personil Pandai Besi.

 

-Foto Oleh : Yuri

 

Kirim Tanggapan