Beberapa tahun lalu, menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, banyak malam saya habiskan dengan berselancar di warung internet (warnet) untuk mencari berbagai informasi terkini tentang politik, demokrasi, dan pemilu. Kemudian, hasil pencarian itu dituliskan menjadi artikel pendek. Keputusan manajemen Efek Rumah Kaca menyatakan kesanggupan untuk mengisi rubrik mingguan di sebuah surat kabar menimbulkan rutinitas baru, semacam berlatih menulis, browsing  di warnet, berburu buku, rapat redaksi, dan menentukan topik.

Hal yang menjadi tantangan adalah “wajib setor tulisan” tersebut berbarengan dengan jadwal tur ke beberapa sekolah menengah di Bandung dan Surabaya. Tur saja sudah menguras tenaga, apalagi ditambah membuat tulisan, pun rutin. Tak heran, sebelum tur, kami justru sibuk belanja beberapa buku politik sebagai bekal menulis selagi dalam perjalanan.

Pernah suatu malam, di Surabaya kalau saya tidak salah, Efek Rumah Kaca (personel dan crew) panik mencari saya ke sana-ke mari dan tidak berhasil bertemu. Ada usul untuk mencari ke kantor polisi atau rumah sakit terdekat. Bahkan, dengan maksud bercanda tentunya, salah satu dari mereka memberi usul untuk mencari saya di selokan karena takut saya terjatuh saat berjalan dalam gelap karena penyakit mata yang saya idap.

Saya yang baru saja datang dari warnet dalam rangka menulis artikel tentu saja kaget sebab ternyata mereka resah mencari saya berjam-jam. Dihubungi ke handphone pun tak bisa, baterai sekarat. Ketika saya beritahu bahwa hanya pergi ke warnet, omelan pun berhamburan karena membuat banyak orang khawatir. Sejak kemampuan melihat saya menurun, malam menjadi begitu mengkhawatirkan untuk saya, menurut kawan-kawan saya.

Malam itu memang termasuk malam  terlama saya di warnet untuk menulis artikel; tujuh jam kurang lebih. Sialnya, tak ada hasil. Padahal, malam sebelumnya, dengan waktu browsing yang lebih pendek, saya  juga nirhasil. Artinya, waktu mengumpulkan tulisan tinggal besok pagi. Panas dingin. Saya tanya kepada Cholil, ternyata dia sudah panas dingin dari kemarin.

Malam itu, hanyalah sebagian kecil dari aktivitas Efek Rumah Kaca pada Januari sampai April 2009. Satu bulan sebelumnya (baca: Desember 2008), kami ditawari oleh harian Kompas untuk mengisi rubrik A-Politis, yaitu rubrik mingguan bertema politik dan hal-hal yang berkenaan dengan pemilu 2009. Kami dipilih sebagai pengasuh rubrik dari kalangan muda, sementara Nia Dinata dan Bimbo dari kalangan yang lebih tua. Kami diberi arahan untuk menulis harapan-harapan tentang pemilu, partai politik (parpol), caleg, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), korupsi, politik uang, dan beberapa topik lain. Tiga belas topik ditulis untuk tiga belas minggu.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari yang sengit; hari-hari dikejar deadline di mana pun kami berada. Hal yang kami lakukan adalah mengatasi keterbatasan pengetahuan, seperti sebuah pendakian terjal yang harus dilakukan oleh seorang pendaki pemula. Kami melatih kepekaan, menajamkan analisis, dan mempersempit jarak dengan hal-hal yang selama ini sering luput dari perhatian.

Saya pun menjadi jauh lebih sering membaca artikel-artikel politik, duduk di antara tumpukan-tumpukan koran dengan halaman-halaman dan kolom-kolom politik yang sebelumnya jarang saya sentuh—lebih sering terlewatkan setelah membaca halaman-halaman olahraga dan hiburan. Frekuensi menonton televisi juga harus saya siasati, melakukan hal lain sambil mendengarkan siaran televisi yang volume-nya sengaja tidak dikecilkan. Lihat saja cara saya mencatat hal apapun dalam beberapa jam: berderet  acara tentang profil seorang pengusaha kecil pembuat bendera merah putih, berita tentang sindikat calo tiket kereta api, wawancara dengan seorang pejuang angkatan 45, liputan tentang keluhan warga yang mengaku kesulitan untuk menghubungi nomor-nomor layanan darurat, Komnas HAM dan Komnas Antikekerasan terhadap Perempuan yang mendesak pemerintah memasukkan penyiksaan dalam Hukum Pidana, dan pemerintah yang baru merealisasikan 8,5% dari 20% anggaran pendidikan dan belum menyentuh kualitas guru dan kurikulum. Saya menjadi lebih terbiasa menyandingkan pesan-pesan positif dengan kenyataan-kenyataan lain yang membangkitkan pesimistis; mengumpulkan harapan-harapan di balik semua ironi dalam kehidupan bangsa ini.

Anggap saja hal berikut adalah pengakuan dosa. Sejujurnya, saya memulai kegiatan menulis rubrik tersebut sebagai seseorang yang cenderung apatis. Pengalaman pascapemilu 1999 dan 2004 membuat saya beranggapan bahwa kehidupan politik hanya arena bermain bagi kaum elite politik, sedangkan saya sebagai rakyat biasa hanya menjadi saksi mata dari semua carut-marut itu. Saya baru menemui titik balik sejak kami mulai mengadakan pertemuan untuk membahas topik artikel dan sharing mengenai pentingnya menyuarakan harapan politik. Apapun hasilnya, yang kami ambil adalah peluang terbaik, yaitu menyuarakan opini kami dengan cara yang lain.

Kami berencana memuat kembali semua artikel tersebut di situs ini. Kami menganggap banyak hal yang diangkat dalam artikel-artikel itu masih relevan. Beberapa catatan pada 2012 menggambarkan hal itu, seperti stereotip iklan parpol yang tak jauh berbeda dengan pemilu 2009, sepuluh anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR yang masuk daftar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan dua puluh tujuh praktik politik uang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI yang ditemukan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW). Tahun 2012 juga mencatat beberapa sidang pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan beberapa temuan KPK tentang adanya tindakan korupsi yang melibatkan banyak anggota parpol, termasuk salah satu parpol yang pada pemilu 2009 identik dengan kampanye antikorupsi. Memang, banyak sekali hal tidak memenuhi harapan.

Meskipun demikian, kami masih berusaha memenuhi harapan kami sendiri. Maka itu, dengan senang hati, kami menyatakan dirilisnya situs ini. Situs ini sudah berjalan sejak 8 Agustus 2012—setelah hampir dua bulan sebelumnya berkutat dengan beberapa gagasan yang kemudian tumpah menjadi draf-draf awal desain. Situs resmi Efek Rumah Kaca ini bisa dibilang merupakan rangkuman dari berbagai akun kami lainnya yang tersebar, seperti Multiply, Tumblr, MySpace, dan jejaring lain. Sama seperti musik kami yang ingin diterima di berbagai kalangan, situs ini pun sengaja dirancang responsif. Jadi, situs ini mudah “diterima” di berbagai internet device, baik melalui desktop, Android Phone, iPhone, Blackberry, maupun mobile phone lain.

Tanpa bermaksud “genit” atau sekadar gegap mengejar teknologi yang terus berubah, situs ini dibangun tak hanya dengan niat menyuguhkan informasi dan content seputar band yang akan kami sajikan secara berkala. Kami juga ingin menjadikan situs ini sebagai wahana interaksi dan diskusi dengan sesama teman-teman pendengar.

Untuk itulah, keanggotaan situs kami buka. Teman-teman dapat mengirimkan opini, catatan singkat, maupun foto melalui fitur Blog Member sehingga kita dapat berbagi komentar. Beberapa rilisan kami ke depan juga direncanakan didistribusikan lewat situs ini. Maka itu, bagi teman-teman pendengar yang belum memiliki akun, kami persilakan untuk mendaftar dalam kolom yang telah tersedia. Lalu, bagi teman-teman yang sudah bergabung, kami ucapkan selamat datang.

Semoga kehadiran situs Efek Rumah Kaca bisa mengisi kegiatan teman-teman di ranah internet dengan lebih kaya lagi.

Kirim Tanggapan