Tulisan berikut ini dikutip dari tugas akhir skripsi berjudul “Negara Pasar dan Masyarakat Sipil: Studi Atas Karya Dari Band Efek Rumah Kaca Sebagai Aktor Seni Kontemporer di Indonesia” (Ditulis dan Diterbitkan oleh Silvia A pada November 2011) Silvia A adalah Sarjana Sosial pada Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia

“Belanja Terus Sampai Mati”: Sebuah Protes terhadap Pasar

1. Akhir dari sebuah perjalanan Mendarat di sudut pertokoan Buang kepenatan

2. Awal dari sebuah kepuasan Kadang menghadirkan kebanggaan Raih keangkuhan

3. Tapi tapi Itu hanya kiasan Juga juga suatu pembenaran

4. Atas bujukan setan, Hasrat yang dijebak jaman Kita belanja terus sampai mati

5. Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban (2x)

 Lagu “Belanja Terus Sampai Mati” menggambarkan konsumerisme yang terjadi pada masyarakat perkotaan. Menurut Cholil, lagu ini sebenarnya merupakan sindiran yang mentertawakan perilaku berbelanja oleh kaum urban yang telah menjadi suatu kebiasaan atau hobi. Bait pertama disebutkan bahwa pertokoan seperti mall bagi kaum urban seperti di Jakarta berfungsi sebagai tampat hiburan. Seperti yang kita ketahui bahwa tingkat stress di perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan sehingga kaum urban ingin membuang kepenatan dan kejenuhan. Untuk mengurangi hal tersebut maka pada waktu luang mereka membutuhkan tempat hiburan. Dan mall adalah salah satu tempat hiburan yang banyak dikunjungi mengingat kurangnya lahan hijau di Jakarta sehingga mall menjadi tempat favorit untuk membuang kepenatan. Selain itu mall mempunyai daya tarik tersendiri bagi kaum urban seperti fasilitas lengkap mulai dari toko baju brand it, restoran, toko buku, kafe, supermarket, bisokop, dan sebagainya. Dengan bertambahnya bangunan mall di Jakarta maka semakin menjadikan mall sebagai satu-satunya tempat hiburan yang layak dikunjungi. Dengan adanya pusat pertokoan seperti mall yang menjual produk-produk mulai dari level nasional sampai level internasional menimbulkan tindakan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan. Namun tindakan konsumsi pada masa kini telah bergeser nilainya, tidak lagi hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan. Tindakan konsumsi terhadap produk yang dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif dikarenakan oleh motif-motif tertentu baik secara sosial, ekonomi, psikologis, dan sebagainya. Motif-motif tersebut dibahas pada bait kedua. Baris pertama Awal dari sebuah kepuasan, perilaku konsumtif seringkali dilakukan secara berlebihan sebagai usaha seseorang untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan belaka.

Terlepas dari seseorang membeli produk tertentu karena didasarkan atas kebutuhannya atau tidak, tetapi secara psikologis seseorang tersebut mersakan kepuasan setelah membeli produk-produk tertentu. Baris kedua Kadang menghadirkan kebanggan. Di dalam buku yang berjudul The Theory of Leisure Class, Thorstein Veblen menyebut istilah perilaku konsumtif sebagai conspicuous consumption yaitu konsumsi yang berlebihan terhadap barang-barang mahal yang merupakan cermin kemewahan dan kebanggaan sosial. (Santosa 2010:20) Baris ketiga Raih keangkuhan, menurut Sarlito W. Sarwono salah satu ciri perilaku konsumtif yaitu apabila seseorang mengkonsumsi barang atau jasa secara berlebihan, misalnya berlebihan dalam hal jumlah harga karena anggapan bahwa harga mahal menunjukkan prestisenya. (Sarwono 2003:89). Pada bait kedua ini, Efek Rumah Kaca menggambarkan bahwa tindakan konsumsi pada kaum urban tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis dan fisiologis melainkan jauh lebih dari itu cenderung mengarah pada tindakan sosial yang didasari oleh motif sosial. Perilaku konsumtif yang cenderung mengarah pada tindakan sosial dilakukan apabila mengkonsumsi barang mahal dan eksklusif demi mempertahankan harga diri dan prestise. Misalnya seseorang yang membeli produk-produk brand it menunjukkan bahwa status sosial seseorang tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang tidak membeli produk brand it (modal simbolik).

 

Bait ketiga merupakan suatu renungan bahwa apakah benar ketika kita membeli suatu produk hanya untuk kepuasan. Atau memang benar adanya kita membeli suatu produk karena sesuai dengan kebutuhan kita, suatu pembenaran. Hal inilah yang membuat Cholil menciptakan lagu “Belanja Terus Sampai Mati”. Cholil membuat lagu ini berdasarkan pengalaman yang ia rasakan, sama seperti kaum urban lainnya bahwa ia adalah pelaku konsumtif.

Pada bait keempat, Efek Rumah Kaca mencoba menarik perilaku konsumtif ke akar permasalahan yang lebih luas yaitu kapitalisme. ‘Fromm‘ menyatakan bahwa keinginan masyarakat dalam era kehidupan yang modern dalam mengkonsumsi sesuatu, tampaknya telah kehilangan hubungan dengan kebutuhan yang sesungguhnya. (Fromm diterjemahkan oleh Sutrisno 1995:54). Atas hasrat yang dijebak zaman/Kita belanja terus sampai mati, kalimat dalam lagu tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumtif cenderung disebabkan karena terjebak dalam masyarakat industri yang dikendalikan oleh kapitalisme. Kapitalisme berprinsip memaksimalkan laba sehingga masyarakat dijadikan sebagai konsumen untuk mengkonsumsi secara massal suatu produk. Intinya adalah perilaku konsumtif cenderung disebabkan oleh adanya struktur kapitalisme bukan karena kebutuhan manusia itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Cholil:

“Jadi, dalam belanja terus sampai mati gue nggak tau ya apakah pasar yang bekerja itu adalah termasuk bagaimana caranya bisa mempropaganda konsumen-konsumen untuk membeli secara gelap mata… moral story-nya di Belanja Terus Sampai Mati gue pengen kita belajar membeli dan memakai sebuah produk yang memang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.” (Wawancara dengan Cholil, 14 Juni 2011)

 

Masyarakat Indonesia Adalah Konsumen

Pasar di Indonesia luas, masuklah mereka di Indonesia… Adakah untungnya buat sebagaian masyarakat? Ada pasti, ada ruginya?…. lebih banyak. (Wawancara dengan Cholil, 24 Juli 2011).

Di dalam arena musik indie, Efek Rumah Kaca (agen) bebas berkarya untuk menciptakan lagu (praktik sosial) yang didasarkan atas apa yang mereka alami (habitus). Cholil membuat teks lagu “Belanja Terus Sampai Mati” didasarkan atas subjektivisme terhadap dunia sosial yang merefleksikan pengalaman dan presepsi agen. Cholil mengakui bahwa dia termasuk konsumtif untuk membeli barang-barang yang ia sukai seperti CD dan buku.

“Terutama ya kalau gue itu sorry kemakan sama lo beli kaset misalnya yang lo nggak terlalu perlu beli tapi ketika didiscount lo jadi pengen perlu. Kayak gitu jadi sebenernya gue lo kepancing beli sesuatu hal yang sebenernya lo nggak perlu lo jadi pengen beli. Gue merasa gue bagian dari itu, apakah gue bisa keluar dari situ belum tau juga gitu karena kita selalu mencari pembenaran-pembenaran untuk bisa melakukan hal itu. Misalnya gini gue beli CD atau beli apa dengan statement prestasi, lo kayak beli buku lo dapet pengalaman baru kadang-kadang gagal beli CD yang mahal-mahal itu ada lo merasa rugi banget tapi kebiasaan itu jalan terus karena gue menganggap saat ini apakah itu pembenaran atau gua menjadi korban sebuah kapitalisme dalam kemampuan mereka untuk mempersuasi kita membeli produk-produknya, mungkin juga.” (Wawancara dengan Cholil, 14 Juni 2011)

Habitus adalah kecendrungan yang selalu ada dalam pemikiran agen yang merupakan hasil dari pengalaman sosial dalam berbagai latar belakang dan keadaan seperti kelas. Cholil berasal dari kelas menengah, Almarhum ayahnya adalah seorang dosen di UIN Ciputat. Sewaktu masih bersekolah dan kuliah ia sering menghabiskan uang bulanan yang diberikan oleh ayahnya bahkan tidak sampai sebulan untuk kebutuhan hobinya seperti membeli kaset dan menyewa studio musik sehingga ia sering dimarahi oleh ayahnya. Selain itu Cholil ternyata juga suka berbelanja baju, “dia sama Irma sama tuh, sama-sama doyan belanja.” (Wawancara dengan Faisal, 17 Oktober 2011) – info :Irma adalah istri Cholil dan Faisal adalah Teman SMA Cholil.

Perilaku konsumtif berlanjut sampai sekarang apalagi melihat status sosial ekonomi Cholil yang bekerja sebagai office manager di kantornya dengan gaji Rp. 4.000.000 perbulan ditambah penghasilan ‘manggung’ yang tidak tetap yang ia dapat dari Efek Rumah Kaca. Terkadang ia membeli produk yang tidak dibutuhkan, namun hanya sebagai kepuasan belaka. Dari pengalaman subjektifnya sebagai pelaku konsumtif kemudian ia membuat pola-pola objektif. Objektivisme berusaha menjelaskan dunia sosial dengan menempatkan pengalaman dan subjektivitas agen serta memfokuskan diri pada kondisi-kondisi objektif yang menstrukturkan kesadaran manusia. Efek Rumah Kaca menciptakan suatu objektivitas dalam mendefinisikan hegemoni dan dominasi kapitalisme pada lagu “Belanja Terus Sampai Mati”, ―bagaimana caranya bisa mempropaganda konsumen-konsumen untuk membeli secara gelap mata. (Wawancara dengan Cholil, 14 Juni 2011).

Klik disini untuk mengunduh secara full artikel ini dan skripsi Silvia yang berjudul “Negara Pasar dan Masyarakat Sipil: Studi Atas Karya Dari Band Efek Rumah Kaca Sebagai Aktor Seni Kontemporer di Indonesia”

 

 

 

 

 

Kirim Tanggapan