Kolase by angki purbandono
Kolase by angki purbandono

ditulis keroyokan oleh Akbar Bagus Sudibyo, Adrian Yunan Faisal, Cholil Mahmud
diedit oleh Harlan Boer
dimuat di Harian Kompas, Sabtu 10 Januari 2009

 

Umbul-umbul, baliho, atau apa pun alat “branding” partai dan caleg kini merajalela. Secara visual, arahan fotografi dan desainnya identik. Secara copy, kerap ada kata “menyongsong”. 

Di pohon-pohon, papan usaha tambal ban semakin tidak “stand out” akibat menjamurnya spanduk parpol.  Di tiang listrik, reklame sedot WC tersisih oleh poster caleg. Di plang jalanan, informasi nomor telepon tempat cuci sofa “disaingi” bendera partai. Bahkan trend fesyen di grass root pun kian bergeser. Dari kaos model “distro funky” a la pemain band di TV, menjadi T-shirt partai.

Kampanye pemilu tersiar luas. Di media massa. Di media personal. Tapi kebingungan memilih masih banyak terjadi. Rasa tidak ingin tahu juga eksis. Atau justru fenomena terlalu mudah menentukan pilihan hanya karena volume kampanye yang masif, apalagi kalau ada figur familiar di sana (baca: selebriti, teman baik, atau saudara). Kenapa kok rasanya tetap susah untuk bisa mendapat informasi yang utuh akan kompetensi tiga puluhan parpol berikut para calegnya yang kini berlaga?

Padahal, pemilu erat sekali hubungannya dengan pilihan dan harapan. Karena pada pemilu kita berkesempatan memilih ulang wakil-wakil rakyat dengan harapan supaya kita bisa mempertahankan mereka yang kritis dan kompeten, dan mengganti mereka yang tidak bisa menjadi perpanjangan lidah kita. Tujuannya selalu sama: terwujudnya proses demokrasi yang sehat dan terciptanya pemerintah yang pro rakyat.

Apa karena kita tidak tertarik pada Pemilu? Terlebih, apakah politik tidak menarik?

Sesuatu yang menarik, biasanya berawal dari dua hal dasar. Pertama, menyenangkan. Kedua, penting bagi kita. Walau tentu bisa saja sesuatu yang penting juga bisa jadi menyenangkan. Itu kenapa sushi jadi trendi. Obrolan tentang musik, bintang sepakbola, model kalender, Facebook, kolesterol, HP, patah hati, asupan gizi dan vitamin sama-sama punya tempat.  Dan masih ada saja penyair yang sempat jogging

Politik, dalam hal ini hasil pemilu, akan mengikat dan mengatur kita. Sempat terjadinya pemblokiran situs myspace, multiply, dan “sejenisnya”, adalah hasil proses politik. Kebijakan masuk sekolah pukul 06.30 juga akibat proses politik. Tarif sms? Itu juga hasil proses politik. Apa yang kita lakukan dan tidak lakukan dipengaruhi oleh proses politik.

Semakin jelas, mengetahui platform dan ideologi parta saja rasanya tidak cukup, karena dengan “mata tertutup” pun kita tahu bahwa semua platform partai pasti baik. Mencari rekam jejak dan sepak terjang calon legislator adalah salah satu caranya. Setelah pemilu selesai pun, kita perlu kritis megukur kinerja wakil rakyat melalui berbagai media.

Ribet? Oh, tidak. Ini kritis di saat krisis. Jalani saja. Mari kita menyongsong!

Kirim Tanggapan