“..Gak ada lagi lagu ERK yang Gak legal” 

Sebuah statement yang lugas dari seorang Cholil Mahmud perihal Efek Rumah Kaca yang secara resmi menggratiskan rilisan album – albumnya secara digital. Terhitung semenjak 1 November 2013 kemarin, Efek Rumah Kaca telah ‘membagikan’ KESEMUA lagu-lagunya beserta semua jenis proyek musik yang lain ( ERK RMX dan DAUR BAUR ) untuk bisa diunduh secara gratis (atau donasi sukarela jika mau) di web efekrumahkaca.net.

Bagaimana dengan rilisan fisik ?

Mengenai rilisan fisik, Efek Rumah Kaca juga sudah merilis album dalam berbagai format, yang terbaru adalah CD album ‘Daur Baur’ yang dirilis oleh Demajors Record, album ini juga dirilis dalam format kaset dan vinyl, album pertama Efek Rumah Kaca ( selftitled ) juga sudah dirilis kembali dalam format CD dan kaset, album kompilasi Efek Rumah Kaca Remix ‘ERK RMX’ sekarang bisa didapatkan rilisan CD-nya di Omuniuum, dan terakhir single ‘Desember’ dengan 2 versi yang dirilis dengan format vinyl 7”.

“Rilisan fisik penting sih, tapi bukan berarti kalau gak ada rilisan fisik, hidup jadi berantakan. Yang utama, yang bikin hidup gak berantakan, ya musiknya itu sendiri. Format rilisan itu pemanisnya.” ~Cholil

Kita semua tahu beberapa tahun belakangan ini sebagian orang beranggapan bahwa membeli rilisan fisik sebuah album musik menjadi suatu hal yang kembali ‘bernilai’ setelah berlalunya era RBT ( Ring Back Tone ) . Mendengarkan musik dengan media kaset, cakram padat dan vinyl sudah kembali lagi ke fitrahnya menjadi suatu kegiatan yang ‘sakral’ dalam menikmati musik.  Namun, bagi sebagian orang yang lainnya, membeli rilisan fisik juga bisa berarti menyisakan pendapatan lagi karena bertambahnya ‘kebutuhan hidup’ yang lain,  artinya tidak semua orang mampu dan mau membeli rilisan fisik dari band/musisi yang ia suka. Banyak orang yang masih berpandangan bahwa ‘kalau ada yang gratis mengapa harus beli ?’ Ya, ‘metode usang’ ini semakin berkembang dengan masuknya era digitalisasi di dunia musik. Semua orang dengan sangat mudah mendapatkan karya musik gratis dari situs – situs file sharing.

Entah hal ini berlaku juga bagi ‘fans fanatik’ atau tidak, saya kurang tahu, kalau saya boleh berpendapat, hal tersebut akan berdasar pada skala prioritas dari masing – masing orang untuk mau membeli rilisan fisik (termasuk merchandise resmi ) dari band/musisi favoritnya atau hanya memilih mengunduh gratis lagu – lagunya di internet. Mengacu pada pernyataan Cholil, pada ahirnya yang akan benar –benar ‘termakan’ orang adalah musiknya itu sendiri, dan format fisik adalah pemanis. “Rilisan fisik dijual, karena membutuhkan ekstra biaya, maka perlu dijual, dengan catatan selama permintaan akan itu ada..” tambahnya.

‘Untuk negara seperti indonesia, gratis identik dengan kualitas yang kurang baik atau kurang memadai. Musik adalah satu-satunya elemen yang tidak sepakat dengan pernyataan ini. Yes No Wave Music, sebuah label rekaman Internet asal Yogyakarta, adalah institusi pertama yang merupakan medium bagi para musisi independen yang ingin merilis karyanya melalui metode unduh secara cuma-cuma. Musisi berprofil tinggi pun kemudian mulai melakukan hal yang sama. Tercatat selama delapan tahun Rolling Stone Indonesia berdiri, Koil sempat merilis albumnya, Black Light Shines On, dengan sistem bundling bersama majalah Rolling Stone. Begitu pula Naif yang merilis kumpulan lagu-lagu B-sides dalam album Let’s Go, Roxx merilis Retake yang berisikan hasil rekam ulang album debut mereka yang legendaris itu, Fariz RM merilis materi lama terbaiknya melalui The Essential Fariz RM, serta Andra and the Backbone merilis album keempatnya, IV. Andra and the Backbone mengaku menggratiskan demi memberi hadiah kepada para penggemarnya.

Otong, vokalis dari Koil, memberikan beberapa alasan penggratisan ini. Satu karena ia merasa angka data penjualan dari label rekaman selama ini isinya rata-rata bohong belaka, alasan lainnya adalah ia mengaku tahu semenjak tahun 2002 bahwa industri rekaman Indonesia sedang menuju ajalnya karena pendengar musik mulai memilih untuk mendengar lagu tapi tak ingin memiliki rilisan fisiknya’. ~Rolling Stone edisi Agustus 2013

Efek Rumah Kaca merilis album berformat fisik yang dijual secara luas sekaligus menggratiskan album tersebut di situs web-nya,  memberikan  pilihan  kepada para pendengarnya untuk mau membeli rilisan fisik, atau hanya mengunduh file Mp3-nya secara gratis.

“Digratiskan secara digital.. kerugiannya mungkin gak bisa dijual secara digital/dipromosikan di gerai – gerai digital (karena memang sudah digratiskan). Ketika kita menjual musik di gerai musik digital, maka ada 2 manfaat, yaitu mendapatkan uang atas karya dan media promosi. Nah, karena sudah kita gratiskan, uang bukan lagi tujuan utama.. Faktor yang kedua itu yang kita bisa kehilangan, Media Promo. Tapi ya sudahlah.” cetus Cholil

Lalu mengapa Efek Rumah Kaca melakukan hal ini ?

Cholil beranggapan bahwa jika musik adalah bagian dari ilmu pengetahuan, dan kehadiran internet itu sangat membawa manfaat bagi dirinya pribadi dengan bertebarannya ilmu pengetahuan didalamnya, maka menggratiskan karya ERK adalah membalas atas segala ilmu pengetahuan yang sudah diberikan oleh internet dan society-nya. “Kontribusi ini yang kami bisa” jelas Cholil.

Adrian Yunan Faisal juga sependapat bahwa dengan menggratiskan semua rilisan Efek Rumah Kaca melalui web site, hal itu merupakan suatu tindakan balas jasa. Berikut penjelasannya :

“Selama ini, kami sudah banyak di untungkan dengan berbagai referensi musik yang didapatkan secara gratis melalui internet. Bila membuka file-file lagu di komputer saya, bisa dibilang sekitar 10% adalah karya musisi dalam negeri yang saya dapatkan dengan membeli CD-nya, sedangkan 90%-nya adalah karya-karya musisi dalam dan luar Indonesia yang saya dapatkan gratis melaluli internet. Rasanya, presentase ini cukup signifikan mempengaruhi wawasan musik saya, termasuk yang tertuang pada musik Efek Rumah Kaca.”

” Hal lain, salah satu alasan utama kami dalam memproduksi karya adalah bagaimana karya kami bisa diakses oleh masyarakat luas. Tanpa bantuan Industri ‘main stream’ di Indonesia lebih sulit rasanya untuk menjangkau masyarakat dengan media promo yang sudah mapan. Internetlah solusinya, kami bisa membuka akses seluas-luasnya dalam dan luar negeri. Orang lain pun pantas mendapatkan lagu kami secara gratis terlebih dahulu karena mereka bisa menyimak lebih dahulu sebelum memastikan suka atau tidaknya. Bila pada akhirnya mereka mau mengunduhnya dengan berdonasi, membeli rekaman fisiknya, atau mengundang kami untuk manggung, itu adalah bonusnya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kirim Tanggapan