Interview Majalah Sintetik: Radikal itu Menjual Bukanlah Ilmu Baru

0
41

oleh: Hilmi ‘Majalah Sintetik’

Entah sudah sampai mana tahap pengerjaan album tiga Efek Rumah Kaca. Di beberapa berita disebutkan kalau album tiga ini nantinya bakal dikasih judul “Sinestesia”, yang berarti tentang sebuah keadaan terbayangnya suatu warna saat mendengarkan komposisi musik tertentu. Kabarnya kover album ini akan berupa citraan digital hasil laboratorium kondisi mata Adrian (bassis/ vokal latar Efek Rumah Kaca). Lebih jauh, kabarnya judul-judul lagu di album ini akan berupa warna, berdasar citraan lagu-lagu tersebut menurut pengalaman dengar Adrian. Berita yang semakin membikin penasaran.

Dibalik penasaran akan album tiga, saya juga menyimpan penasaran tentang bagaimana proses kreatif mereka bekerja. Hingga bisa menghasilkan lagu-lagu yang tak hanya indah, namun juga bersuara.

Berikut adalah hasil wawancara saya dengan Cholil yang saya lakukan via surel. Selain lebih mudah secara teknis, juga mempermudah saya untuk bertanya bebas. Saya cenderung untuk merasa ndredeg dan takut bila berhadapan langsung dengan orang yang pintar. Apalagi, agak sadis juga rasanya dibantai oleh sosok yang biasa menyanyikan “Mosi Tidak Percaya”. Toh, ternyata lewat surel pun, Cholil masih bisa sukses membantai saya lewat jawabannya.

Read More

Selamat membaca!

Sejauh ini, issue apa aja yang bakalan mau diangkat di album ketiga nanti?
Belum tau, segala sesuatunya masih mungkin berubah selama album itu belum dirilis (kecuali judul albumnya, hehe). Sejauh ini sih albumnya akan terdiri dari 6 lagu, durasi antara 60-65 menit.

Di beberapa kesempatan saya baca kalau di album ketiga ini nanti Efek Rumah Kaca akan menampilkan musik yang eksperimental (tidak umum) plus durasi yang lebih lama (juga tidak umum). Padahal selama ini Efek Rumah Kaca bisa dibilang cukup sukses karena konsep musiknya yang pop, dan itu seirama dengan pesan-pesan yang disampaikan, karena dengan musik yang pop, Efek Rumah Kaca kemudian dapat menyampaikan pesan secara lebih optimal. Bukankah dengan menjadi lebih eksperimental (paling tidak secara durasi) nantinya Efek Rumah Kaca akan kesulitan dalam menyampaikan pesan?

Pertanyaannya terlalu spekulatif nih. Seandainya setelah mas/mbak sintetik mendengar album ke 3 dan ternyata albumnya tidak se-eksperimen yang mas/mba kira gimana? Tunggu albumnya keluar aja deh. Terus disimak, habis itu baru pertanyaan ini ditanyain lagi.

Bagaimana pendapat kalian tentang seniman yang “kita mah bikin-bikin karya aja, mau ada yang dengerin atau nggak itu terserah”, padahal itu agak rancu juga ketika kemudian si seniman publish (atau “jual”) karya itu ke masyarakat…

Arah pertanyaannya kemana ya? Seberapa independen dalam berkarya atau bagaimana mencari peluang di pasar? Kondisi ideal buat ERK adalah; kami buat musik yang kami suka aja. Jika diluar (baca:pasar) nantinya gak ada yang suka sama musik yang kami buat ya, nggak apa-apa. Terserah aja (emang juga terserah, masa mau maksa orang untuk suka sama musik yang kami buat?).

Paling-paling kami gak ada yang ngajak manggung karena lagunya gak enak yang berefek pada berkurangnya pendapatan finansial ERK. Hal ini sudah kami antisipasi dengan menganggap bahwa pendapatan finansial dari ERK hanyalah bonus, ada senang tak ada tak bimbang (berusaha independen secara finansial dengan cara bekerja diluar ERK, hal ini berlaku juga buat kru panggung). Jadi ketiadaan panggung mestinya tidak terlalu berdampak terhadap proses kreatif. Satu masalah selesai.

Terus kalau kami gagal di pasar apa artinya musik kami juga gagal menurut kami sendiri? Nggak tuh, dalam kasus ini suara mayoritas (pasar) bukan kebenaran tunggal buat kami. Ketika kami buat karya (dan kebanyakan pemusik atau seniman lain kami yakin juga melakukan hal yang sama) pasti sudah melalu proses penyaringan/pemikiran dan sudah yakin bahwa ini adalah karya yang mendekati paripurna (tentu saja selalu ada ketiakpuasan teknis yang tidak terlalu esensial saat pembuatan karya) pada masanya.

Apakah peristiwa ini yang mas/mbak sintetik tanyakan? merujuk dalam pertanyaan diatas “kita mah bikin-bikin karya aja, mau ada yang dengerin atau nggak itu terserah”? kalau iya, ERK kayaknya melakukan hal yang sama.

Berikutnya, setelah karya yang semau gua atau seenak udelnya jadi (bisa jadi, karya yang seenak udelnya menurut si pemusik itu ternyata hanya karya yang pasaran bagi pendengar musik yang lain) barulah kita cari peluangnya di pasar.

Apakah pasar perlu dipikirkan? jika anda ingin menjajakan gagasan tertentu “jelas perlu”. Pasar (termasuk pendengar musik ERK, pendengar musik lain, media, kritikus, blogger, pemodal atau siapapun itu yang merasa sebagai penggerak roda perekonomian permusikan) perlu di telaah setelah karya lahir, bukan sebelumnya supaya keberadaan atau hiruk pikuk pasar tidak berpengaruh dalam proses kreatif.

Dalam kasus ERK, ketidaktahuan personil (anggota yang memainkan instrumen, walaupun sebenarnya secara etos, seluruh kru panggung ERK layak mengemban jabatan personil) pada hal yang berhubungan dengan marketing musik indie-indiean (kalau nyebut indie agak males, tapi kalau indie-indiean sih agak lucu dengernya) sedikit tertutupi dengan adanya manajer Harlan Boer dan road manager Yurie. Palingan Cholil, Akbar dan Adrian hanya tanya-tanya atau sedikit usul.

Tugas utama mereka (manager) adalah mengupayakan gagasan, ide, hiburan, kandungan estetika yang ada dalam karya itu bisa dikunyah oleh orang lain. Dilakukanlah upaya-upaya pemasaran yang konvensional maupun yang gak konvensional agar kabar tersebut tersebar. Syukur-syukur kabar tersebut jadi kabar “baik”.

Menurut kami, dua masalah (yang kami asumsikan diatas) sudah terjawab dan kami gak melihat ada kerancuan apapun didalamnya.

Efek Rumah Kaca bisa dibilang cukup sukses sebagai musisi, tapi bagaimana dengan Efek Rumah Kaca sebagai penyampai pesan?

Wah kalo ini mah yang jawab yang dengerin musik ERK. Bukan pihak ERK-nya, kan yang bikin musiknya ERK, maka yang menjadi penerima pesannya adalah yang mendengarkan musiknya.

Bagaimana pendapat kalian tentang attitude penggemar musik yang cenderung suka untuk meng-ekslusifkan musik-musik bagus seperti ERK, dkk, sehingga cenderung tak suka ketika musik bagus tadi kemudian menjadi “jamak”. Padahal seharusnya musik bagus tadi menjadi milik bersama…

Misal gua (Cholil) suka Jeff Buckley… Jika se-Indonesia suka Jeff Buckley kayaknya gua akan tetep suka Jeff Buckley. Coba ganti Jeff Buckley dengan Iwan Fals, jawabannya bagi gua masih sama.

Tapi kalau ditarik lagi, kenapa gua sukanya rock bukan dangdut, mungkin karena dari kecil gua terhegemoni (didalamnya gua yakin ada unsur eksklusifitas dan subjektifitas juga, dan udah bercampur baur dengan unsur-unsur yang lain) dengerin rock, terus diimajinasi gua yang keren adalah rock, dangdut cupu. Jadilah gua secara subjektif dan ingin ekslusif dengan menyukai rock (diasumsikan dangdut tidak eksklusif karena pendengarnya lebih luas).

Estetika memang subjektif (bahkan kesubjektifan itu memakan korban selera awal kita sendiri, yang objektif hanya hasrat untuk eksklusif itu sendiri).
Oleh karenanya bisa dimengerti jika ada orang yang suka musik tertentu namun jadi gak suka dengerin musik itu hanya karena musik itu menjadi jamak.

IMHO estetika bisa berkembang karena gak ada batas pengekangan (bahkan terhadap isi kepala kita sebelumnya).

Bisa bayangin gak kalau orang dalam mendengarkan seni harus objektif? selain gak tau caranya, gua gak bisa ngebayanginnya.

Cholil masih kerja kantoran? Apakah kerja kantoran itu cukup membantu dalam melihat fenomena-fenomena sosial sebelum kemudian diangkat dalam tema lagu?

Masih, sejauh ini sih lumayan membantu, kecuali kalau kerjaan kantor membludak sehingga perlu begadang-begadang, ngelembur dan gak berdampak signifikan bagi proses kreatif ERK.

Kalau kerjaan normal-normal aja, lumayan membantu karena bisa sharing-sharing gak jelas sama temen kantor, punya waktu banyak untuk baca buku di perpus kantor (perpustakaan kantor gua koleksi bukunya lumayan mengerikan).

Apakah kalau gua gak kerja, proses kreatif gua gak akan seperti ini? Gak tau juga sih, belum pernah ada dalam posisi itu. Tahun 98an sebelum kerja sih gua tetap nulis lagu. Tapi saat itu pemahaman estetiknya beda ama sekarang dan gak bisa dijadiin parameter.

Belakangan, banyak yang bilang kalo musik itu berbeda jalur dengan perubahan sosial. Musik ya musik aja. Dan itu adalah hal yang berbeda jalur dengan perubahan sosial. Bagaimana pendapat Efek Rumah Kaca?

Musik bagi kami bisa berguna macam-macam; hiburan, reflektif, menyalurkan gairah seni, media berkomunikasi dengan orang lain yang lebih banyak lagi, media edukasi dan manfaat lain yang mungkin terpendam tapi belum tergali.

Kami bisa belajar dan berubah karena musik. Lalu perubahan itu membawa pengaruh ke peran kami dalam masyarakat (kami bagian dari masyarakat juga kan?). Lalu mungkin perubahan peran kami dalam masyarakat ,membawa pengaruh juga dalam proses perubahan sosial. Kalau musik adalah elemen satu-satunya yang membawa pengaruh ke perubahan sosial ya jelas salah. Tapi kalau mengatakan musik gak membawa pengaruh ke perubahan sosial kami sih gak sepakat. Dia bukan penyebab satu-satunya, tapi dia memiliki peran.

Bagi orang yang menganggap bahwa musik tidak penting dalam kehidupannya (sekedar hiburan atau apalah maknanya), maka tentu musik tidak akan membawa pengaruh pada dirinya dalam hubungannya dengan perubahan soisal yang dimaksud (musik ya musik, perubahan sosial ya perubahan sosial).

Setelah Efek Rumah Kaca muncul, banyak sekali band-band (lama dan baru) yang “mendadak politis”, dan kebanyakan mereka gagal atau malah jadi konyol, apakah kalian setuju bahwa menjadi politis/radikal adalah salah satu tips pemasaran baru? Bagaimana pendapat kalian tentang fenomena radikal itu menjual ini?

Waduh, masih perlu di jawab nih pertanyaan ini?

Kami balik tanya sama mas/mbak sintetik: penyanyi atau band paling besar atau massanya paling banyak di Indonesia siapa?

Kalau jawabannya Iwan Fals dan Slank setuju dong?

Lagunya mereka kayak gimana sih? Yang bilang secara marketing radikal itu gak menjual hanya A&R label2 yang sok tau itu yang sekarang labelnya juga lagi megap-megap untuk survive (salah satunya karena kegagalan A&R untuk merespon pasar). Nah, jadi ketika ada orang Indonesia yang bilang bahwa radikal itu “komoditas atau tips pemasaran baru” -apalagi berdasarkan referensi Andrew Potter (pengarang buku “Radikal itu Menjual”) – adalah orang yang gak bisa memetik pelajaran dari fenomena ditanah airnya sendiri (ingat Iwan Fals, Slank atau Kantata Takwa) yang bahkan sudah terjadi puluhan tahun lalu. Dalam konteks itu, “radikal itu menjual” bukanlah ilmu baru.

Sebagai musisi yang liriknya kuat, proses pengerjaan album kalian cukup “aneh”. Karena justru didasarkan pada lagu yang sudah jadi. Beda kayak Lou Reed (misalnya) yang bikin lirik dulu, baru lagu. Apakah ini tidak mengganggu proses “penyampaian pesan” dan “pengangkatan issue” dalam lagu?

Kayaknya itu pilihan dan cocok-cocokan aja deh. Mungkin kalau kami pakai gayanya Lou Reed malah hancur berantakan. Kalau menggangu proses menyampaikan pesan sih harusnya kalian justru yang bisa ngejawabnya, apakah mengganggu?

Apa sih kriteria kalian untuk mengangkat sebuah isu? Apakah karena isu tersebut kurang diperhatikan? Atau murni pada issue-issue yg kalian concern?

Kriterianya adalah isu tersebut memanggil kami untuk menulis lagu. Bagaimana caranya sebuah isu bisa memanggil kami? Nah itu juga masih misteri bagi kami sendiri. Alias gak ngerti dan biarin aja gak ngerti. Mending mikirin yang lain.

Lirik kalian selalu nyaman meski sarat pesan, apa sih rahasianya biar lirik Efek Rumah Kaca tak jadi pretensius?

Itu hanya perasaan mas sintetik aja, ahhh. Ya begitu itu, cara nulis lagunya ERK. Lagu dulu, lirik setelahnya. Silakan coba. Nanti kalau nggak enak, ya diperbaiki. Kalau tetap nggak enak ya tetap diperbaiki. Begitu terus, sampai jadi enak, minimal buat kamu sendiri yang memainkan musiknya.

Mayoritas orang ngeliyat kalo “activism” identik dengan “against authority”, instead of “to build/ to empower” bagaimana pendapat Cholil tentang ini?

Kalau tujuannya sama, perlu ada dua-duanya dong. Garis keras dan garis lembek. Kalau tujuannya beda, ya, samain tujuan dulu berarti. Baru mikirin caranya.

Cholil pernah bilang di salah satu edisi Rolling Stone Indonesia kalau sebenarnya Efek Rumah Kaca itu “masih aman”, dan masih tak terlalu politis. Apakah di album tiga nanti ada perubahan menuju konsep itu?

Enggak sih, emang belum kepingin. Kecuali kalau hidup kami menjadi sangat politis maka dengan sendirinya musik kami akan juga menjadi politis

Apakah nanti di album 3 akan ada isu soal lingkungan hidup? Atau isu itu sudah cukup diangkat sehingga tak perlu dibahas lagi? Kenapa?

Belum tau mas sintetik… Tunggu aja.

Dalam pengerjaan album 3 ini, apa playlist Cholil?

Destroyer – Kaputt
Midlake – Trials of Van Occupanther
Ryan Adams – Love is Hell
Wilco – Sky Blue Sky
Laura Veirs – July Flame
Sun kil Moon – Ghost of The Great Highway
Voyagers of Icarie – Mysteries
Out of Season – Beth Gibbons & Rustin Man

5 lagu penyampai pesan terbaik versi Cholil!

Yang kepikiran saat ini aja yak. Gua gak bisa menyebutkan lagu yang terbaik, karena gua belum mendengar seluruh musik yang pernah dibuat orang. Yang bikin gua merinding aja deh (karena merinding juga seringkali menjadi parameter ERK dalam mengaransir lagu).

Potret – Iwan Fals
Terbunuh Sepi – Slank
Gendjer-Gendjer – Bing Slamet/Lilis Suryani
The Sound of Silence – Simon & Garfunkel
Gloomy Sunday – Rezso Seress.

 

*) Naskah ini dimuat juga di Majalah Sintetik

Kirim Tanggapan