Hari Minggu lalu, 10 Maret 2013, saya menjadi saksi sebuah sejarah baru untuk musik Indonesia. Live recording bersemangat gotong-royong di studio legendaris Indonesia, Lokananta-Solo oleh band yang tak kalah Indonesianya dalam filosofi, Pandai Besi. Sebuah proyek plus-plus dari para personil band Efek Rumah Kaca (ERK).

Studio Lokananta adalah isu seksi dalam beberapa bulan ini. Setelah Glenn Fredly dan para sahabat Lokananta berusaha melakukan banyak kegiatan untuk membantunya keluar dari kondisi kembang-kempis kekurangan dana operasional. Sedikit cerita, Lokananta adalah studio musik yang merekam banyak sejarah musik Indonesia sejak 1956. Merekam Gesang, Bubi Chen, Waldjinah, menyimpan pidato Soekarno, Indonesia Raya versi WR Supratman, bahkan bukti telak bahwa lagu Rasa Sayange adalah asli milik Indonesia di masa sengit sengketa dengan Malaysia. Sebelumnya sebagai awam, saya cuma bisa urun retweet mengawetkan pesan untuk #saveLokananta , sampai di 22 Februari lalu mendapati notifikasi email tentang crowdfunding Pandai Besi untuk rekaman di Lokananta.

Tak pikir panjang, saya pesan tiket kereta dan pesawat berikut kamar hotel sederhana untuk jadi saksi catatan khusus untuk perjalanan musik Indonesia ini. Kenapa khusus? Ada banyak karena untuk menjawabnya. Karena Lokananta dan live recording, laksana menyaksikan sebuah proses rekaman kelas Abbey Road London! Karena secara pribadisaya suka racikan kata di lagu ERK, apalagi sembilan lagu yang direkam kebetulan favorit saya.Karena mereka memutuskan untuk mengumpulkan biaya rekaman dengan cara paling Indonesia; gotong royong, alias patungan dari khalayak ramai.Merekalah yang pertama melakukan ini untuk rilisan musik fisik.Saat dapat bisikan biaya yang cukup besar, langkah ini saya pandang paling pas karena membangun cerita heroik dan keberpihakan dari banyak orang. Saat saya menguntit di studio, tim crowdfunding masih berkutat membuat promo untuk paket dukungan yang dimulai dari 60 ribu hingga 10 juta, dan setiap pertambahan angka patungan disambut dengan sorak gembira dan wajah bersyukur.

Hari Minggu lalu saya, dapat hiburan kelas wahid! Total mereka melakukan dua hari live recording di 10-11 Maret, dengan 12 jam rekaman per harinya, dimana saya cuma sempat mengintip di hari pertama. Bayangkan sebuah konser pribadi dengan suasana magis Lokananta, entah karena lampu atau akustik ruangan yang lampau, entah karena bayangan Irma dan Abigail yang berjoget di dinding, entah karena lagu-lagu favorit yang dibawakan dengan berbeda, entah karena kamera di sana-sini dan terikan “cut” untuk dokumentasi visual perjalanan ini.

Pandai Besi adalah format musik yang lebih hidup, ramai, kompleks, berbeda dengan ERK yang lebih tenang, dewasa, dan sederhana.Terdiri dari dua personil asli, Cholil Mahmud (vokal, gitar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum) ditambah Airil “Poppie” Nurabadiansyah (bas), Andi “Hans” Sabarudin (gitar), Muhammad Asranur (piano), Agustinus Panji Mahardika (terompet), dan Nastasha Abigail juga Irma (vokal latar).Lagu yang direkam langsung adalah Hujan Jangan Marah, Menjadi Indonesia, Di Udara, Melankolia, Jangan Bakar Buku, Laki-laki Pemalu, Debu-debu Berterbangan, Jalang, Desember. Berbeda karena secara lirik tak secerewet aslinya, kadang cuma bagian tertentu yang diculik dan dinyanyikan berulang-ulang untuk menyampaikan pesan.

Kenapa Pandai Besi? Mereka merasa nama baru penting untuk menyampaikan musik yang berbeda. Boleh dibilang ini paket rekreasi Cholil-Akbar-Poppie setelah jenuh selalu membawakan lagu dari 2 album dengan komposisi yang itu-itu saja. Dan perlu dicatat untuk sebuah proyek rekreasional, mereka rela repot latihan setiap minggu, sejak Ramadhan tahun lalu. Ini akan jadi pengisi jeda sebelum album ketiga mereka, Sinestesia, rilis. Mungkin juga pengantar yang pas, karena konon di album baru 6 lagunya berdurasi panjang 8-13 menit dengan eksplorasi musik yang lebih nekat, disamping pesan yang saya yakin juga “berbahaya”. Sebagai teman menanti, akan hadir juga album remix elektronika berisi 12 lagu ERK di beberapa bulan ke depan.

Maka mari ikut berbaris dan berharap-harap cemas. Jika cukup ringan hati ikut merogoh kantong, sehingga semangat gotong royong  ini berbuah manis. Ingat, sejarah hanya sudi mencatat yang pertama dan yang terhebat.Semoga ini jadi salah satunya.

 

Ditulis oleh : Kika Dhersy Putri –

Foto oleh : Agung Rahmadsyah –

 *Artikel ini juga dimuat di Jawa Pos, edisi Jumat, 15 Maret 2013.

Kirim Tanggapan