ditulis keroyokan oleh Adrian Yunan Faisal, Akbar Bagus Sudibyo dan Cholil Mahmud
diedit oleh Harlan Boer
dimuat di Harian Kompas, Sabtu 17 Januari 2009

***

Seorang pengamat politik mengatakan belanja iklan partai politik pada pemilu 2009 mencapai 800 milyar. Salah satu media bahkan memberitakan bahwa menurut salah seorang praktisi periklanan, biaya iklan pemilu diprediksikan mencapai 20 trilyun, apabila dihitung dengan kampanye presiden tahap I dan II. Wuiih. Baru menjadi calon anggota DPR saja belanjanya sudah tidak kira-kira.

Mengapa harus sebanyak itu? Di luar penayangan raker partai dengan kemasan yang membosankan secara visual,  apakah media tidak bisa memberikan publikasi yang strategis untuk kepentingan partai? Tidak juga.

Sebenarnya media bisa memberitakan baik partai maupun kadernya dengan cuma-cuma apabila ada dua hal: berita baik atau berita buruk. Untuk hal yang pertama,  biasanya berupa prestasi,  jarang terjadi. Untuk hal yang kedua, misalnya berita semacam si Fulan kader partai Kambing Dijepit tertangkap tangan, kaki, dan mulut sekaligus ketika melakukan upaya korupsi. Menjengkelkan dan menyesakkan hati. Karena berita buruk seringkali disukai oleh media, akan ditampilkan berminggu-minggu, terus menerus. Dan pada kenyataannya, memang lebih banyak contoh kedua yang terjadi. Tak aneh bila diganjar publikasi.

Makanya dibutuhkanlah uang sebanyak itu untuk memuja-muja diri sendiri dan partai sekaligus meng-counter berita negatif tersebut Dari satu iklan partai ke iklan lainnya, secara visual berbeda-beda tetapi maksud tetap sama. Bandar kecap,  “Kamilah yang paling tepat menjadi pilihan Anda.”

Iklan-iklan partai di TV sama persis seperti iklan produk, mencoba mendapatkan sebanyak mungkin peminat. Ada yang meperlihatkan ”kekraban” partai dengan kaum petani dan nelayan. Penentasan kemiskinan dan kekerasan menjadi amunisi janji. Sisi emosionil anak-anak sebagai penerus bangsa diyakini sebagai angle yang menyentuh empati. Ikon-ikon berbagai golongan dengan fan base yang besar ditampilkan. Juga panorama alam memukau yang seolah merayu kita pada betapa Indonesia bisa jaya jika ’dikelola” oleh partai saya.

Yang tidak terlihat di  layar kaca pada pemilu kali ini adalah iklan yang berusaha mengajak pemilih untuk cerdas, kritis, dan menggunakan hatinya pada apa pun pilihan partainya. Tidak mengagung-agungkan ke-aku-an atau ke-partai-annya. Iklan seperti ini penting karena dengan berani bertaruh tidak mengiklankan nama partainya dan lebih memilih mencerdaskan pemilih, artinya rakyat selalu yang utama bagi partai tersebut. Pada pemilu 2004, ada salah satu partai yang membuat iklan seperti ini. Pemilu tahun ini? Belum. Semoga belum.

Apakah itu artinya partai politik tidak ingin pemilih menjadi cerdas? Para partai bisa jadi bilang begini: “Maaf, strategi itu sulit mendulang suara, tidak sebanding dengan modal promosi saya.”

Kirim Tanggapan