Diawal tahun biasanya hujan turun terus-menerus, sama seperti hari itu. Hari itu pada sekitar awal tahun 2011, kami bertandang ke Cimahi Bandung dalam sebuah event pengumpulan dana yang diperuntukkan bagi korban penyalahgunaan narkotika dan penderita HIV/AIDS. Yang berbeda, hujan tidak menjadi penghalang bagi orang-orang yang hadir saat itu. Hujan malah seperti memberikan inspirasi dan kebersamaan.  “Terbakar” oleh sebuah orasi pendek dari seorang relawan, semua orang yang hadir memilih untuk terus bertahan dibawah curahan hujan untuk menyampaikan dukungannya bagi semua penghuni tempat itu. Waktu itulah saat kami memainkan “Desember” disebuah tempat yang menebarkan harapan akan keteduhan bagi penghuninya, disebuah tempat yang disebut  Rumah Cemara. 

Rumah Cemara adalah sebuah yayasan yang dibentuk dan dibangun secara swadaya oleh lima orang mantan korban ketergantungan  narkotika. Saat ini, yayasan tersebut melayani pendampingan untuk rehabilitasi penderita HIV/AIDS, rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika, serta divisi pelayanan dampak buruk penggunaan narkotika.

Organisasi rehabilitasi bagi penderita HIV/AIDS pada Rumah Cemara itu, dibangun dengan nama “Bandung Positif”. Karena mayoritas penderita itu hampir tak memahami kemana mereka mencari penyembuhan yang terjangkau dan aman, maka dibentuklah organisasi itu untuk membangun alur komunikasi antara penderita dengan berbagai pihak sehingga tercipta pelayanan kesehatan yang optimal serta terjangkau

Ada pengalaman berharga dari event tersebut yaitu rasa kepedulian yang tulus. Hanya hal itulah yang mungkin bisa menggiring orang untuk mengabdi tanpa pamrih kepada para korban kecanduan narkotika. Setidaknya hal itulah yang tidak saya lakukan secara utuh kepada seorang teman. Beberapa tahun yang lalu saya cukup sering melewati hari-hari bersama seorang teman yang sedang kecanduan putaw, termasuk beberapa minggu ketika kecanduannya semakin berat. Banyak pertemuan kami lewati dengan berbincang-bincang tentang harapan dan rencana masa depan diselingi kebiasaanya menyuntikkan putaw setiap setengah sampai satu jam. Niat saya buat peduli semakin luntur karena merasa harapan-harapan yang disampaikannya pada saat mabuk hanyalah sebuah usaha untuk menutupi kelemahan dirinya, saya memilih untuk menjauh darinya dan harus menelan perasaan miris ketika datang kepemakamannya beberapa tahun setelahnya. Dia meninggal karena terinfeksi berat dari virus HIV yang dideritanya. Tentu saja saya tidak punya kapasitas lebih untuk menyembuhkannya, tetapi mungkin seharusnya saya bisa bersabar untuk meyakinkannya agar mencari pengobatan. Mungkin setidaknya saya punya peluang untuk itu.

Belakangan saya lebih memahami bahwa kebanyakan keluarga terlalu mengasihani korban sehingga mereka malah takut untuk membawanya ke sebuah rehabilitasi, juga karena malu terhadap orang disekitarnya. Sebaliknya terlalu banyak orang lain disekitarnya yang justru memilih tidak peduli. Padahal jika kita percaya bahwa setiap komunitas (masyarakat) memiliki berbagai mekanisme pemecahan masalah (problem solving) yang paling handal, maka dalam hal ini saya termasuk didalamnya. Selain Pemerintah dan LSM, masyarakat adalah gerbang awal untuk menjadi pemecah permasalahan narkoba karena kedekatan masyarakat dengan para penderitanya.

Menurut seorang teman yang juga seorang relawan disebuah tempat rehabilitasi bagi para korban penyalahgunaan narkotika yang bertempat disebuah rumah sederhana di Bukit Duri Jakarta Selatan, membangun komunikasi yang sangat personal antara seorang relawan dengan seorang peserta terapi memang menjadi salah satu kunci keberhasilan dari program rehabilitasi. Selain metode medis, metode diskusi dan pendekatan kerohanian mendapat porsi yang besar dalam program. Metode ini ditujukan agar seorang relawan benar-benar bisa membaur dan masuk kedalam dunia seseorang yang sedang kecanduan. Menurutnya, kebutuhan tubuh akan konsumsi narkotika dan sifat obsesif yang sudah sangat akrab dengan kehidupan seorang pecandu, membuat perspektif hidupnya sangat jauh berbeda dengan orang normal. Biasanya aktifitas berbaur dengan masyarakat bisa jadi sangat menyiksa buat mereka, ironisnya sebagian dari mereka sangat piawai menutupi beban itu. Tak heran jika seorang relawan yang juga mantan pecandu biasanya adalah seorang relawan yang handal, karena dia tahu betul tentang hal itu.

Menurutnya, masyarakat juga harus menanggalkan stigma yang berlebihan kepada para korban penyalahgunaan narkotika. Jika kita menemukan seorang atau sekelompok pecandu, masyarakat harus mulai berpikir bahwa itu adalah masalah bersama. Jadi prioritas utama adalah bagaimana mereka bisa di buka kesadarannya dan diberikan informasi tentang pengobatan atau rehabilitasi. Melaporkan hal itu kepada polisi malah hanya menjadi prioritas berikutnya karena kepentingan polisi adalah bagaimana bisa mengungkap jaringan pengedar yang tak jarang bukan termasuk orang yang mengkonsumsi narkotika. Dari pengalamannya, kebanyakan korban juga tidak mendapatkan efek jera setelah menjadi tahanan di lembaga pemasyarakatan karena tidak sedikit dari mereka yang bisa membeli fasilitas yang nyaman di penjara termasuk kemudahan untuk mendapatkan narkotika. 

Memandang masalah ini tidak bisa pragmatis. Tidak boleh terjebak dalam mekanisme artificial yang didesain secara instan hanya dengan slogan “Jauhi Narkoba!!!”. Haruslah mendekat dan mengetahui tentang seluk-beluk permasalahan dan latar belakang para penderita. Haruslah bisa memilih informasi yang tepat dari media apapun termasuk menolak tayangan televisi yang hanya mengangkat pemberitaan tentang korban narkoba sebagai alat komoditi dan tidak berpegang pada substansi. Menyelesaikan masalah ini haruslah terencana mulai dari pencegahan dengan pendidikan tentang narkoba sampai mengurangi dampak buruk bagi penderita dan orang-orang disekitarnya. Menyelesaikan masalah ini haruslah dengan cinta, pengabdian, dan kesadaran bahwa siapapun bisa menjadi korbannya dan siapapun bisa ikut menolongnya.

Sampai saat ini, saya memang sangat terkesan, dengan seorang relawan Rumah Cemara, Regi Kayong Munggaran, dengan orasinya yang mencerahkan “Walaupun  tak mengenal satu sama lain, Kalian yang datang kesini datang dengan membawa cinta, dan nyawa untuk setiap nyawa yang kalian support di Rumah Cemara ini. Respect buat Kalian”. Begitulah berharganya sebuah cinta dan pengabdian.

 

 

 

Kirim Tanggapan