Ide memang tak seperti lampu pijar di atas kepala yang dengan proses penuh misteri tiba-tiba menerang-benderangi ruang kerja yang bersih dan tertata rapi. Ide juga tak semudah meneriakkan “eureka” sambil memainkan sulapnya. Bahkan, ide tak juga seperti kamar pecah, ruang kerja yang sangat berantakan karena pergulatan penemuan ide. Memang, nyatanya tak seperti itu.

Ide lebih mirip dengan potongan-potongan cerita, catatan-catatan kecil yang kami kumpulkan selama hampir dua setengah tahun belakangan. Begitu banyak kejadian yang harus dijalani dan begitu banyak momen panggung yang Efek Rumah Kaca lewati tanpa saya yang belakangan didiagnosis mengalami gangguan pada sistem kekebalan tubuh dan sistem saraf, termasuk saraf mata yang disebabkan efek menahun dari virus toxoplasma yang pernah saya idap. Maka itu, saya memang diberi ruang yang luas untuk beristirahat dan lebih berkonsentrasi untuk menjalankan pengobatan.

Sejak awal 2010, beberapa momen pertemuan saat rekaman, pembicaraan sekitar album, dan beberapa hal lain seputar internal Efek Rumah Kaca kami manfaatkan sebaik-baiknya. Percayalah, pertemuan-pertemuan itu tak terus berkutat dalam obrolan-obrolan tentang virus busuk, penyakit brengsek, mata rusak, saraf kusut, penyakitan, mental tempe, atau rasa primitif apa pun. Tak harus dibakar terus dengan cerita di balik lagu “Twist and Shout”-nya The Beatles saat John Lennon merekam vokal dalam kondisi demam tinggi dan Ivan Scumbag yang juga melakukannya. Ini mengenai bagaimana bisa mencungkil makna dari sesuatu yang rapuh. Ini mengenai bagaimana mengoptimalkan aktivitas Efek Rumah Kaca di dalam dan di luar panggung. Itulah alasan website ini dibuat.

Selama beberapa tahun ini, kami mengumpulkan potongan-potongan materi untuk album ketiga; album yang kami harapkan sama spesialnya seperti album-album sebelumnya. Keinginan untuk membuahkan karya yang segar dan memberikan sensasi musikal yang baru buat kami sendiri menjadi musuh besar sekaligus motivator yang ulung. Mungkin, kami sudah duga sebelumnya bahwa ini akan menjadi proses yang panjang, serupa dengan proses pembuatan album pertama ketika kami melewati fase “kebuntuan”. Puluhan sesi latihan dan pembahasan konsep album yang tak menghasilkan apa-apa terus-menerus mengisi keseharian kami, seperti saat-saat hanyut dalam perasaan sebagai medioker dan hanya bisa tertegun mendengarkan referensi-referensi musik yang kami kagumi.

Sisi baiknya, kami yakin karya-karya besar lahir dari perasaan yang sama. Ide mulai cair ketika Cholil mengusulkan hasil laboratorium foto mata saya sebagai sampul album. Satu per satu lagu kami buat di rumah dan diaransemen di studio. Hal itu terus berlanjut sampai Cholil menyebutkan kata Sinestesia sebagai judul album—dikenal sebagai “korsleting” sistem saraf indera yang bisa berakibat seseorang melihat warna saat mendengarkan musik.

Satu hal yang baru, kami bereksperimen dengan nada-nada bernuansa folk dan penggabungan dua atau tiga lagu menjadi satu komposisi dalam durasi sepuluh sampai sebelas menit. Setiap komposisi mewakili sebuah warna berdasarkan “penglihatan” saya. Itu layaknya sesuatu yang tidak lazim, tetapi bisa dipaksakan lazim apabila kami berhasil membuat komposisi yang cantik. Sejak Cholil dan Akbar memulainya pada Juni 2010, kini proses rekaman sudah melewati separuh perjalanan. Mudah-mudahan, kami bisa merilis album yang berdurasi lebih dari enam puluh menit itu dalam beberapa bulan ke depan; karya yang lahir dari buah kesabaran kami.

Untuk mengisi masa transisi yang cukup lama sejak album Kamar Gelap dirilis pada 2008, pada waktu dekat ini, kami juga akan merilis album remix lagu-lagu dalam album Efek Rumah Kaca. Jay Besthusler, Cacat Nada, dan Adit Bujbunen Al Buse merupakan musisi-musisi yang menginspirasi kami. Persamaan dari mereka adalah sama-sama memainkan musik elektronik dan sama-sama me-remix lagu Efek Rumah Kaca. Hal yang spesial buat kami adalah karya remix mereka berhasil menawarkan interpretasi yang berbeda. Karya Adit Bujbunen Al Buse “Somno Disturbia – Eulogi Arsenikum” yang merupakan interpretasi lagu “Di Udara” pernah dirilis oleh yesnowave.com pada 2008 dalam album soundtrack film fiksi horror Maujud. Sementara itu, “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” karya Jay Besthusler pernah dirilis dalam album kompilasi Synchronize pada 2009 oleh Demajors.

Ketiga karya tersebut digabungkan dengan sembilan karya lain yang di-remix teman-teman musisi yang kami tawarkan untuk membuatnya. Para musisi yang menyumbangkan karyanya, yaitu Andri Lemes, Ape On The Roof, Belkastrelka, Bottle Smoker, Bima G, The Voyagers, Lull, Sajama Cut, dan Zeke Khaseli. Semua karya itu tergabung dalam album remix.

Kami juga mendapat banyak pengalaman tentang pendistribusian karya kami. Itu bukan hanya soal menjual dan menyebarluaskan karya, tetapi juga cara menjadikan karya sebagai milik masyarakat. Kehidupan bermusik kami pun tumbuh dan berkembang dengan mendengarkan berbagai referensi musik yang didapat dari file sharing—suatu cara pendistribusian yang liar tak terbatas. Untuk itu, kami juga akan menyebarluaskan dua album di atas dengan memberikan fasilitas free download melalui website ini. Artinya, si pencipta dan si pengunduh punya kepentingan bersama untuk memperbanyak, merepublikasi, dan mengembangkan karya itu dalam bentuk apa pun selama siapa pun yang mengunduhnya tidak memanfaatkannya untuk tujuan komersial tanpa seizin kami. Selain itu, website ini juga memberikan pilihan untuk berdonasi sewaktu mengunduh dan memberikan kebebasan bagi siapa pun yang ingin menghargai karya itu dengan cara lain.

Semoga karya-karya kami selalu memberikan manfaat.

Kirim Tanggapan