Diminta menulis tentang korupsi, kok rasanya berat ya? Sepertinya pembaca sudah kebal/baal menyimak isu ini. Korupsi sudah sangat sering dijadikan bahan tulisan, diskusi, dan malahan prakteknya secara kasat mata mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Terlalu sering dibahas, dan tidak membawa perubahan, jelas tema korupsi  rentan terkena antipati, sekaligus terasa terlalu mega kasual.

Salah satu ciri nyata dari betapa memasyarakatnya korupsi adalah keberagaman istilah bahasa dan kosa kata yang lahir berkat aktivitas itu. Aneka mata uang tercipta: pelicin, uang rokok, uang dengar, sampai uang kaget. Kata keterangan tempat kian beragam: lahan basah, lahan becek, hingga lahan banjir. Para pelaku korupsi, baik yang kakap maupun yang “kelas kelurahan”, banyak mengumbar eufimisme untuk mengutarakan lokasi, maksud, dan motif korupsinya- mungkin biar koruptor terlihat lebih santun lagipula beradab untuk menutupi tindakan manipulasinya. Singkatnya, koruptor juga mahir nyastra.

Contoh-contoh “kosa kata” korupsi di atas adalah beberapa yang antara eufimisme dan kata aslinya tidak mempunyai arti yang jauh berbeda. Masalah mulai muncul (koruptor senang sekali buat masalah) ketika antara eufimisme dan kata aslinya mempunyai arti yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Seperti “uang damai” dan “semua beres”. Uang damai adalah uang yang diberikan oleh pihak yang berselisihpaham untuk mendamaikan masalah. Dia pikir dengan uang masalah bisa selesai. Pada prakteknya, seringkali dendam masih membara walau uang sudah diterima. Begitu pula yang terjadi pada pihak pemberi suap, suka merasa tertipu dan  tidak nyaman dengan “kedamaian” yang coba ia ciptakan, hingga dongkol di belakang. Artinya, uang tidak mendamaikan masalah. Begitu juga dengan semua beres, seolah dengan membayarkan sejumlah uang suap semua permasalahan menjadi beres. Padahal, apabila suap itu tertangkap, permasalahan akan semakin runyam dan jauh dari beres.

Dan juara bertahan yang paling menyedihkan adalah kalimat popular ini: “Tolong kebijaksanaannya, Pak”. Seolah-olah apabila bisa “membantu”, maka lawan bicara terlihat lebih bijaksana. Fakta justru sebaliknya, tidak bijaksana.

Asal kata korupsi adalah corruption, yang ternyata juga bersumber dari bahasa latin corruptus, yang bisa diartikan merusak/menghancurkan habis-habisan. Artinya, segala tindakan yang merusak atau menghancurkan adalah tindakan korupsi.

Penyelewengan arti akibat ulah “bahasa korupsi” bisa pula dikatakan korupsi. Jadi, seringkali dalam tindak pidana korupsi terjadi dua kejahatan: korupsi itu sendiri dan korupsi bahasa.

Karena bahasa adalah bagian dari budaya, maka para koruptor telah merugikan kebudayaan bangsa ini. Masihkan kita mohon “kebijaksanaannya”?

 

ditulis oleh Cholil Mahmud

diedit oleh Harlan Boer

dimuat di Harian Kompas, Sabtu 31 Januari 2009

Kirim Tanggapan