Apresiasi untuk Tim Panggung

Tiba-tiba, saya mendengar suara Aco—salah satu tim panggung kami. Dia menyapa pelan dan penuh perhatian ketika strap bas saya terlepas. ”Tenang, Adrian, rileks aja, biar gue benerin.” Setelah itu, dia juga menawarkan air minum dan menanyakan kondisi saya. Kondisi mata dan fisik saya yang sering kali tak terprediksi saat berada di atas panggung memang bisa membuat ketenangan saya “goyah“. Pada saat itu, setiap part reportoar Efek Rumah Kaca yang biasa kami bawakan terasa asing bagi saya. Adaptasi itu menguras energi, semacam penyesuaian terhadap finger board, microphone, posisi strap, song list, air minum, bahkan pencahayaan panggung. Saya memang tak bisa melihat wajah Aco, tapi suaranya memberikan energi baru buat saya. Pertolongan dan dukungannya seakan memberikan saya stimulan. Menurut saya, Aco memang semakin “matang” dalam penanganan berbagai hal teknis maupun nonteknis di panggung. Lebih dari itu, saya paham sekali bahwa tidak hanya butuh konsentrasi dan ketenangan emosi untuk bisa mencermati kondisi saya, tetapi juga empati yang kuat.

Saya menulis seperti ini bukan karena sedang tersentuh oleh perasaan sentimentil. Sesungguhnya, bukan kali itu saja teman-teman dari tim panggung sukses “menangani” saya. Namun, malam itu menyisakan kesan yang dalam. Permainan saya kala itu mungkin tidak optimal, tetapi saat itu, saya makin memendam respek terhadap keintiman yang dibangun oleh mereka. Kesan mendalam semacam itu juga saya rasakan pada saat perkenalan awal dengan tim panggung kami.

Memang, pertemuan dengan teman atau temannya-teman bisa terjadi di mana saja. Kami pernah mengikuti tur empat kota tepat menjelang merilis album Efek Rumah Kaca pada 2007. Itu adalah pertemuan berkesan kami dengan Yuri, road manager kami. Waktu itu, ia bertindak sebagai penyelenggara tur. Dalam tur yang sama, kami juga bertemu Arif, gitaris band Dear Nancy. Awalnya, ia berperan sebagai teknisi gitar kami. Namun, pada tur itu, ia “dijebak” untuk menekuni sound engineer. Selain itu, ada juga Rosi, sound engineer kami sekarang. Ia bahkan adalah orang pertama yang mengajak kami manggung di Malang.

Di luar tur tersebut, kami bertemu dengan tim panggung yang lain. Sebelum Yuri, posisi road manager dipegang oleh Faisal, teman SMU saya. Tak hanya itu, ada pula teman tim panggung—sebut saja Si Alan (nama disamarkan)—yang terasa “menggelitik” kami. Perkenalan dengannya diawali dengan sikap pemalu pada menit pertama. Pada menit berikutnya, dia sudah melemparkan lelucon sambil cengengesan. Saat itu, kami pun langsung “sibuk” menebak-nebak karakternya. Belakangan, kami dikenalkan kepada Muchsin, seorang punker yang baik hati. Kini, ia ikut membantu kami sebagai teknisi drum. Saat ini, Arif, Si Alan dan Faisal aktif di luar Efek Rumah Kaca dan tidak keberatan untuk membantu kami jika suatu saat keahlian mereka dibutuhkan. Apapun cara pertemuannya, kami merasa beruntung telah dipertemukan dalam suasana pertemanan dan saling merasa antusias terhadap pertemanan itu.

Antusiasme tersebut datang dari kami sebagai sebuah band. Kami terdiri dari musisi yang belum mempunyai banyak jam terbang, road manager dan sound engineer yang masih pemula, dan anak band yang belum pernah menjadi tim panggung profesional. Dari situlah, kami melakukan debut dan belajar bersama-sama dalam lingkungan yang terasa seperti keluarga. Keluarga kami adalah sekumpulan amatir yang ingin membangun band dan menciptakan pertunjukannya. Kekerabatan dijalin dengan menghayati peran setiap individu dan membangun “mimpi-mimpi kolektif”. Kami bersama-sama menikmati kegairahan bertemu dengan berbagai panggung. Kami menghargai kesuksesan performa panggung yang baik dan tim panggung yang pantas mendapatkan pujian. Tak hanya itu, kami juga menerima kegagalan dan melakukan pendewasaan dari semua kegagalan itu.

Jika melihat-lihat ke backstage, Anda akan bertemu dengan Yuri, Aco, Rosi, dan Muchsin. Mungkin, mereka sedang serius mempersiapkan peralatan tanpa menanggalkan lelucon dan senda gurau. Jika Anda merasakan suasana yang santai, bukan berarti mereka tidak sedang “diselimuti” ketegangan. Dengan segelas kopi atau sebotol minuman dingin, mereka sedang “menghirup” ketegangan menjadi lebih cair. Mereka berusaha mengatur ritme kerja agar misinya berhasil. Salut!

Sebenarnya, saya tidak mau terjebak dalam narasi yang hanya membahas kesuksesan. Kami pun tumbuh bersama dengan “segudang” konflik yang bisa disebabkan oleh kelalaian, salah komunikasi, bahkan berbagai perbedaan pendapat tentang nilai-nilai kehidupan yang pantas diterapkan. Meskipun demikian, .tulisan ini adalah penghargaan tinggi terhadap pengabdian tim panggung kami yang intens dalam mengerjakan berbagai printilan tugasnya demi menyajikan tata produksi yang baik. Mereka menyelami peran pentingnya dan ingin memberikan kenyamanan bagi setiap personel di atas panggung. Ini hanyalah bentuk apresiasi kepada mereka yang jantungnya berdegup kencang, keringatnya bercucuran, dan respons inderanya menegang lima menit sebelum Efek Rumah Kaca tampil. Dengan caranya sendiri, mereka ingin pesan-pesan dalam lagu Efek Rumah Kaca tersampaikan kepada penonton.

Semoga tidak terkesan berpretensi. Saat ini, saya hanya sedang memikirkan kepulihan kondisi saya. Mengingat-ingat perjalanan bersama mereka mungkin bisa membangkitkan sugesti untuk sembuh.

 

 

 

Kirim Tanggapan