Press Release Lagu 'Putih' - Efek Rumah Kaca

Wednesday, 23 September 2015 11:18 | Read 43550 times | 
Foto oleh Yose Riandi

Kami baru saja selesai menyelenggarakan konser pertama kami setelah kurang lebih 8 tahun berjibaku di kancah musik Indonesia (jika dihitung dari tahun 2007 saat kami melepas album pertama) atau 14 tahun (jika dihitung dari awal kami terbentuk). Suasana haru, bahagia dan bangga terlihat jelas di wajah para personil dan semua orang yang terlibat di konser. Cholil bahkan sempat tertangkap kamera sedang menyeka air mata ketika mendengar Adrian, yang telah lama “hilang” dari panggung-panggung Efek Rumah Kaca (ERK), berbicara mengenai betapa bahagianya ia malam itu. Konser ini juga terasa istimewa karena kehadiran semua orang yang pernah terlibat dalam ERK seperti Harlan Boer, mantan manajer ERK yang malam itu menjadi show director dan Andi “Hans” Sabaruddin yang kerap menggantikan Adrian bermain bas di rentang 2011-2012. Selebihnya, adalah wajah-wajah yang sampai sekarang masih sering membantu ERK dan Pandai Besi, sister band dari ERK.

Pasar Bisa Dikonserkan, yang menjadi tajuk dari konser itu, dibagi menjadi tiga segmen. ERK tampil membawakan 11 lagu sesuai dengan format album pada segmen satu. Suasana berubah menjadi haru sejak kemunculan Adrian di atas panggung, membacakan nama-nama orang “hilang”. Kolaborasi dengan musisi tamu pada segmen dua, mulai dari Monica Hapsari, Tetangga Pak Gesang, Bin Idris, Mondo Gascaro, Meng dari Float serta Ario dan Ale dari The Adams juga berjalan mulus. Suasana gelap berujung menjadi ceria, dan berakhir menjadi banyolan saat The Adams membuka kedok lagu “Cinta Melulu”. String sections yang menjadi kolaborator pada segmen tiga menjadi senjata pamungkas untuk membius penonton dan berharap akan menjadi kenangan yang melekat tentang kesan dari rangkaian “Pasar Bisa Dikonserkan.” Di atas dan di belakang panggung, semua terasa sempurna, sesuai dengan rencana.

Namun suka cita itu mendadak pupus dalam waktu kurang dari 24 jam, saat mendengar dan membaca komentar di media sosial tentang penyelenggaraan konser yang secara keseluruhan jauh dari baik. Mulai dari tata suara yang tak jelas dikarenakan gedung pertunjukkan yang memang sulit untuk “ditaklukan”, antrian panjang penonton yang sudah memegang tiket namun gagal masuk ke dalam gedung tepat waktu sehingga banyak penonton yang tertinggal bahkan sampai lagu ke lima, hingga masalah batasan umur penonton yang tidak jelas karena konser disponsori oleh perusahaan rokok sehingga mengakibatkan seorang anak tidak bisa menonton konser.

Prinsip utama penyelenggaraan konser adalah kami ingin berbahagia bersama orang-orang yang punya kesamaan selera. Kami menghargai semua ulasan buruk konser secara artistik, dan tentu saja akan merasa bahagia jika ada yang menganggapnya bagus. Namun, jika ada yang terluka dan kecewa terhadap penyelenggaraan konser, tentu saja kami ikut berduka. Karena pada dasarnya kami tidak ingin menyulitkan orang lain. Penonton adalah pembeli tiket, yang tidak murah, dan oleh karenanya berhak mendapatkan pelayanan yang baik. Namun, karena kelalaian kami, banyak faktor dasar untuk menyelenggarakan konser yang baik dan nyaman itu gagal terpenuhi. Maka, konser yang diharapkan akan berkesan, bisa menjadi konser yang pas-pasan, kalau tidak mau dibilang mengecewakan.

Oleh karenanya, kami, Efek Rumah Kaca meminta maaf yang sebesarnya kepada para sahabat dan penonton yang kurang puas atau kecewa dengan penyelenggaraan “Pasar Bisa Dikonserkan”. Semoga kami dapat memperbaikinya pada kesempatan berikutnya.

Melanjutkan semangat berbagi yang sudah kami lakukan sejak beberapa tahun terakhir, pada konser tersebut, kami juga membagikan lagu yang berjudul “Putih” yang akan ada di album ke-3 ERK, bagi mereka yang hadir di konser dan membawa flash disk. Untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang tidak bisa hadir di konser, kami memutuskan untuk melepas lagu tersebut secara resmi dan bisa diunduh melalui akun soundcloud resmi ERK dan situs Ripstore.Asia (Mirror Download).

Putih, lagu berdurasi 9.48 menit, mulai direkam pada tahun 2010. Rekaman pertama instrumen piano, dilakukan di Pendulum studio, yang sekarang sudah rata dengan tanah. Selanjutnya, perlahan-lahan lagu itu dibongkar dan dipasang sedikit demi sedikit selama kurang lebih 5 tahun di berbagai studio seperti Black dan Als studio.

Putih adalah lagu tentang keluarga, gabungan dari dua lagu tentang “Tiada” dan “Ada.” Ide tentang “Tiada” didapatkan dari hasil obrolan dengan seorang teman yang bernama Adi Amir Zainun, yang pada akhirnya pergi meninggalkan kami menuju kekekalan sebelum lagu ini selesai dikerjakan. Sedangkan, ide tentang “Ada” bermula dari kebahagiaan akan lahirnya anak-anak kami, penerus penerus kami, harapan-harapan kami. Lagu ini kami dedikasikan untuk mereka.

Dari musik, kami mendapatkan banyak pelajaran untuk menjadi lebih baik. Salah satu bentuknya adalah dengan membangun keluarga yang hangat dan saling mendukung. Ini terlihat dari anggota keluarga inti dan keluarga dekat personel ERK (dan Pandai Besi) terlibat hangat dan cair dalam proses bermusik kami. Mereka yang dekat, anak-anak kami, istri, dan pacar serta kerabat lainnya bahkan adakalanya lebih penting dari bermusik itu sendiri, dan bisa memperkaya musikalitas kami. Seperti ketika kami harus vakum beberapa saat karena Cholil harus menemani keluarganya untuk menuntut ilmu. Bahkan mungkin saja di kemudian hari kami harus rehat lagi demi keluarga.

Terakhir, kami ingin berbagi bahwa hari-hari ini adalah momen penting bagi kami, keluarga besar ERK. Penting karena setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu bersama keluarga besar ERK di studio untuk menyiapkan konser di mana beberapa di antara kami terpaksa harus meninggalkan keluarga berjam-jam setiap hari. Dan terutama momen yang indah serta menyenangkan karena kami bisa berkumpul bersama orang-orang terdekat kami di atas panggung Pasar Bisa Dikonserkan. Bagi kami, tidak ada yang lebih menyenangkan ketimbang berada bersama keluarga, para sahabat dan penyimak ERK.

Pengalaman penyelenggaraan Pasar Bisa Dikonserkan menjadi momen perpaduan duka dan suka sekaligus menjadi semacam titik balik yang selalu ada di setiap kehidupan, di mana “tiada” dan “ada” hadir silih berganti.

PUTIH

Tiada (untuk Adi Amir Zainun)
Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku habis juga

Saat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga
Oh, kini aku lengkap sudah

Dan kematian, keniscayaan
Di persimpangan, atau kerongkongan
Tiba tiba datang, atau dinantikan
Dan kematian, kesempurnaan
Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian , awal kekekalan
Karena kematian untuk kehidupan tanpa kematian

Ada (Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan)

Lalu pecah tangis bayi Seperti kata Wiji
Disebar biji biji
Disemai menjadi api

Selamat datang di samudra.
Ombak ombak menerpa
Rekah rekah dan berkahlah
Dalam dirinya, terhimpun alam raya semesta
Dalam jiwanya, berkumpul hangat surga neraka

Hingga kan datang pertanyaan
Segala apa yang dirasakan
Tentang kebahagian
Air mata bercucuran

Hingga kan datang ketakutan
Menjaga keterusterangan
Dalam lapar dan kenyang
Dalam gelap dan benderang

Tentang akal dan hati
Rahasianya yang penuh teka teki
Tentang nalar dan iman
Segala pertanyaan tak kunjung terpecahkan
Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Tak kan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

 

Kredit foto oleh: Yose Riandi. Artwork oleh Bebewahyu

comments powered by Disqus
Login to post comments