Riwayat Pembunuhan Aksara

Tuesday, 18 September 2012 00:35 | Read 9816 times |  Last modified on Tuesday, 18 September 2012 09:23 Written by 
Riwayat Pembunuhan Aksara

“Kata demi kata mengantarkan fantasi, habis sudah, habis sudah. Bait demi bait pemicu anestesi, hangus sudah, hangus sudah.”  (Efek Rumah Kaca)

Sepenggal lirik dari lagu yang bejudul Jangan Bakar Buku milik Efek Rumah Kaca ini menggambarkan situasi tragis pemusnahan terhadap aksara. Robertus Robert pada kuliah umum mengenai ‘Pelarangan Buku dalam Politik Kebudayaan Indonesia’ memakai istilah librisida atau konsep dari libricide yang bersumber dari Rebbeca Knuth yang berarti pembunuhan terhadap buku.

Bangsa ini mempunyai sejarah kelam tentang pembakaran buku. Sebelum bangsa ini merdeka, beberapa peristiwa librisida pernah terjadi seperti pelarangan buku Student Hidjo karya Mas Marco Kartidikrimo dan penangkapan sejumlah aktivis pergerakan karena tulisan-tulisan mereka yang dianggap menyerang pemerintah kolonial. Setelah merdeka pada tahun 1945, praktek librisida terjadi pada rezim demokrasi terpimpin ala Soekarno seperti pelarangan buku Hoa Kiau di Indonesia karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer dan Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta.

Memasuki rezim orde baru kepemimpinan Soeharto, peristiwa librisida semakin sistematis dan mengarah ke ranah ideologis sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan politik. Kita ketahui paham komunisme dan organisasi PKI dianggap sebagai pengkhianat bangsa Indonesia melalui argument-argumen politis orde baru. Bahkan mereka yang dituduh sebagai anggota atau simpatisan PKI tidak segan untuk dibunuh oleh sang pengusa. Maka tidak heran jika buku-buku yang berhaluan kiri dilarang beredar di masyarakat, salah satunya buku yang berjudul Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa. Buku ini membeberkan tentang kesemrawutan peristiwa G/30/S/PKI.

Jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998, mengantarkan Indonesia pada gerbang kebebasan dan masyarakat yang lebih demokratis. Dunia penulisan dan penerbitan menjadi lebih bebas dan jurnalistik lebih mengalir seperti keluar dari penjara kehidupan bayang-bayang kekuasaan. Namun pasca reformasi pun ternyata masih ada tragedi librisida seperti pada tanggal 21 april 2001 sebuah organisasi yang menamakan dirinya Aliansi Anti Komunis membakar sebuah buku yang berjudul Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme karya Prof.Magnis karena pemerintah dianggap tidak menjalankan TAP MPRS No XXV 1966 tentang PKI sebagai organisasi terlarang dan penyebarluasan Marxisme-Leninisme yang setelah itu dihapuskan oleh presiden Gusdur.

Peristiwa-peristiwa tersebut menginterpretasikan bahwa kegiatan membaca dan menulis mempunyai pengaruh yang besar bukan hanya terhadap individu atau masyarakat, tetapi juga mampu mempengaruhi negara dalam ranah ideologis dan politis. Tokoh tokoh besar seperti Anne Frank, Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib tidak pernah bermimpi bahwa suatu saat tulisan-tulisan catatan harian mereka menjadi ramai diperbincangkan. Anne Frank seorang perempuan berdarah yahudi yang mengungsi akibat kekejaman rezim nazi di Jerman mempunyai mimpi menjadi seorang wartawan dan selalu menuliskan gagasannya melalui catatan harian. Konon, catatan harian Anne Frank menjadi catatan harian pertama di dunia yang dibukukan dan dipublikasi.

Soe Hok Gie seorang mahasiswa idealis yang selalu berteman dengan malam itu sering menuliskan pemikiran-pemikiran tajamnya untuk menentang kekuasaan. Dan Ahmad Wahib seorang pemuda yang sering menuliskan pemikiran-pemikiran tentang agama melalui hasil diskusinya. Meskipun Gie dan Wahib ditakdirkan untuk mati muda, namun Catatan Seorang Demonstran karya Gie dan Pergolakan Pemikiran Islam karya Wahib menjawab eksistensi mereka pada ranah intelektual berupa tulisan.

Menurut Hendro Martono dalam buku Mengolah Kata Menjadi Berharga (2006) mengatakan, ‘dengan menulis maka saya telah melepaskan masalah-masalah yang menganggu pikiran saya’. Atau bentuk refleksinya, menulis adalah pemaknaan tentang kehidupan. Gelombang arus pesimisme kebebasan membaca sudah hampir tidak ada di negeri ini. Namun sunggung ironis ketika dunia kampus yang identik dengan inteklektualitas alpa dengan budaya literasi. Kampus terasa ruangan kosong yang bersarang laba-laba ketika dihuni oleh makhluk tak membaca. Saya sebagai manusia yang selalu ingin belajar, tidak ada alasan untuk tidak membaca dan menulis. Bagi saya, membaca adalah proses menggauli dunia dan menulis adalah pertanggungjawaban atas itu semua.

Selamat hari aksara!

*) sumber gambar: shidiq90.blogspot.com


Gunawan Wibisono

manusia.

comments powered by Disqus
Login to post comments