Efek Rumah Kaca: Banal, Klise, Elegi, dan Ekspektasi Tinggi

Monday, 06 August 2012 08:53 | Read 30162 times |  Last modified on Monday, 23 September 2013 17:16 Written by 
Efek Rumah Kaca: Banal, Klise, Elegi, dan Ekspektasi Tinggi

Tiga kata yang tercantum di judul tersebut, yaitu ‘Banal’, ‘Klise’, dan ‘Elegi’ adalah tiga kata yang lima tahun lalu berhasil menyita perhatian banyak penikmat musik di Indonesia. Tak pelak, tiga kata itu pun kemudian melekat erat dengan tiga kata pertama yang tertera pada judul di atas, Efek Rumah Kaca. Sebuah band yang memberi nama pada kelompoknya dengan nama yang paling akrab dengan isu global paling santer saat itu. Siapa sangka kata-kata Efek Rumah Kaca yang awalnya hanya bisa ditemui di penjelasan ilmiah dan seringkali akademis tentang bumi itu akhirnya menjadi identitas suatu kelompok musik.

Trio pop minimalis ini mampu membuat pendengar musik di negeri ini menengok kea rah mereka ketika jejeran lirik-lirik lagu nan puitis dan tidak akrab dibaca mereka suguhkan dengan musik pop yang terkadang terbalut dengan nuansa gelap. Pernyataan yang membungahnya adalah ketika label “Penyelamat Musik Indonesia” disematkan pada mereka. Walaupun kental dengan subjektivitas, tetap saja ada kesepakatan kolektif diam-diam di antara beberapa orang yang mengamini.

Mengawali gebrakan di tahun 2007 lewat debut album ‘Efek Rumah Kaca’, mereka berlanjut mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu band yang paling sering dilirik di industri musik Indonesia saat ini (tentunya tidak hanya sebatas lirikan lintas channel di layar kaca) dengan merilis album ‘Kamar Gelap’ di tahun 2009. Ganjaran ‘Album Terbaik 2009’ peringkat 1 versi Rolling Stone Indonesia pun diterima. Citra sebagai band cerdas yang didapat dari pesan-pesan lagunya pun didapat. Bahkan kerap meramaikan acara diskusi-diskusi politik yang menghadirkan mereka sebagai hiburan.

Efek Rumah Kaca, Identitas nan Fenomenal

Kita sepertinya harus setuju ketika ada pendapat yang mengatakan bahwa kehadiran Efek Rumah Kaca sangatlah fenomenal untuk kondisi saat itu. Masih ingat jelas saat mereka menghajar tren band-band melayu yang mengobral cinta bersyahwat lemah lewat lagu ‘Cinta Melulu’. “Apa mungkin karena kuping melayu,suka yang sendu-sendu..” Bukan rasis, tapi faktanya kesenduan memang begitu bisa kita dalami ketika menyimak band-band melayu di layar kaca. Menjamur pelan-pelan dan akut, walaupun pangsa pasarnya (dalam artian untuk masuk TV, dapat label, dan jualan belas kasihan) diakui cukup memikat. Tapi sekali lagi, dalam dalil yang sama, mereka menegaskan bahwa atas nama pasar semua itu menjadi begitu klise.

Seperti melanjutkan ungkapan uneg-uneg mereka tentang cinta, mereka sekali lagi membabat habis, atau setidaknya membuat ratusan orang menjadi gengsi untuk mengumbar cinta, lewat lagu ‘Jatuh Cinta Itu Biasa Saja’. Nomer yang berani meng-counter tradisi hiperbolisasi cinta di masyarakat. Berapa orang yang akhirnya menjadi sok jaim mendengar barisan lirik di lagu itu?

Mereka masih sangat perkasa untuk menancapkan citra sebagai band yang peka dengan kondisi sosial di awal kemunculannya saat menggeber lagu-lagu seperti ‘Bukan Lawan Jenis’ (tentang fenomena cinta sesama jenis), ‘Jalang’ (tentang upaya pembungkaman oleh orang-orang yang tidak ingin diusik), ‘Belanja Terus Sampai Mati’ (tentang budaya konsumerisme yang menjangkiti kaum urban), ‘Efek Rumah Kaca’ (tentang pemanasan global), hingga lagu paling antemik dan patriotik ‘Di Udara’ yang berceloteh tentang Alm. Munir dan semangatnya yang seharusnya tetap dilanjutkan. Lagu ini yang membuat mereka selalu menjadi bahan usulan para penyelenggara acara diskusi politik hingga gerakan #MenolakLupa setiap kali pemberitaan tentang kematian sang aktivis kembali diangkat ke permukaan.

Selanjutnya berisi nomer-nomer renungan nan melankolis tanpa pernah terkesan over romantic. ‘Insomnia’, ‘Debu-Debu Berterbangan’, ‘Melankolia’, ‘Sebelah Mata’, dan ‘Desember’ menjadi bahan renungan yang tidak murahan untuk didengar. Khusus untuk ‘Desember’, ini merupakan – jika boleh dibilang – lagu galau ala Efek Rumah Kaca. Berceloteh tentang hujan, kesepian, dan penantian. Sesuatu yang pasti akan dinyanyikan secara masal di tiap gigs mereka.

Kamar Gelap, Pengukuhan Citra Berkelanjutan

Seolah membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekedar kelompok yang kebetulan pintar agar menarik perhatian, mereka mengeluarkan album keduanya yang bertajuk ‘Kamar Gelap’ yang menyediakan banyak hal yang tak kalah menarik dari album pertama.

Masih peka membombardir dengan isu bunuh diri di ‘Tubuhmu Membiru… Tragis’, ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ menjadi lagu yang akan membuat anak-anak remaja dan kegiatan pamer tubuhnya menunduk malu. Keisengan untuk kesenangan belaka ini berhasil mereka tertawakan di lagu ini.

Bencana karena hujan (‘Hujan Jangan Marah’), harapan membaiknya kondisi negara (‘Menjadi Indonesia’), minimnya kesempatan bagi anak negeri untuk berkembang ketika diskriminasi terpampang (‘Banyak Asap di Sana’), menghargai buku (’Jangan Bakar Buku’), hingga penyuaraan betapa muaknya rakyat dibohongi oleh petinggi-petinggi negara yang korup (‘Mosi Tidak Percaya’).

Kemudian beberapa nomer filosofis untuk merenung khas mereka juga melengkapi album ini, seperti ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’, ‘Lagu Kesepian’, ‘Kamar Gelap’, ‘Laki-Laki Pemalu’, dan ‘Balerina’. Nampaknya formula lama kembali mereka pakai di kemunculannya yang kedua. Citra sebagai band cerdas pun menguat, penghargaan di dapat, dan pengakuan juga meningkat. Mereka sukses membuat nama mereka semakin diperhitungkan.

Album Ketiga, Ekspektasi dan Tantangan

Dengan kemunculan mereka lewat dua album terdahulu yang membuat mereka disanjung banyak pihak sebagai band cerdas, tentunya Efek Rumah Kaca tidak mau tergelincir dan dicaci jatuh dari tahtanya. Pekerjaan berat pasti ada di pundak ketika ekspektasi para penggemar untuk tidak kecewa dengan kemunculan album ketiga yang masih menjadi misteri.

Apa tema yang akan dibahas lagi? Apa liriknya masih bagus ? Atau mereka akan kelelahan lalu menjadi “biasa”?

Citra yang sudah terlanjur melekat jelas merupakan suatu kebanggaan. Namun di sisi lain, ini merupakan tantangan bagi Efek Rumah Kaca untuk menjadi semakin kokoh atau malah jatuh. Banyak penggemar yang sudah tidak sabar mendapat suntikan materi baru tiap kali datang ke gigs. Meskipun lagu ‘Hilang’ sudah lama dilempar ke khalayak sebagai penanda bahwa mereka masih akan tetap galak mengobrak-abrik kepekaan sosial pendengarnya, tentu penggemar butuh bukti lebih banyak lagi dari sekedar satu lagu. Dibanding dua album yang fenomenal, apa yang bisa dilakukan satu lagu selain memberi decak kagum dan anggukan kepala?

Saya teringat ketika menonton mereka bermain di salah satu gigs. Di tengah penampilan, Cholil sang vokalis mengatakan bahwa album mereka mungkin akan keluar sekitar bulan puasa. Saat tulisan ini saya buat, kita tengah berada di medio bulan puasa. Apa mereka masih butuh waktu lebih lama lagi untuk kembali mengeluarkan album cerdas nan fenomenal tanpa mengurangi tensi yang terdahulu? Saya pribadi masih akan tetap menunggu.


Rizaldy Yusuf

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie yang menyukai sastra dan musik. Membuka diri untuk banyak genre walau tetap dengan pintu Blues dan Folk dimana di sana terpajang potret Robert Johnson dan Bob Dylan. Bermain musik sambil sesekali membaca sejarah musik.

9 comments

  • Comment Link Achmad Sobur Friday, 13 September 2013 17:32 posted by Achmad Sobur

    salam. terlalu banyak atau mungkin setiap pendengar musik erk menyatakan bahwa erk adalah orang cerdas dan pendengar merasa cerdas dengan menjadi pendengar erk, mari jangan menghakimi mereka cerdas, biarkan mereka terus berkarya apa adanya, nikmati tiap alunan nya, ambil hal positif dari mereka, dan mari yang baca tulisan ini dan islam, kita baca surat Al-Fatiha untuk kesesuai kesehatan Adrian Yunan Faisal. karena pendapat saya meski Andi Hans dan Popi pembetot bass yang handal tapi original mereka bukan erk, meski ada pandai besi yang begitu apik memainkan lagu erk, dan dentuman Remix lagu-lagu erk tetap mereka bukan erk, jadi inget kata Akbar di Ancol acara Urban Fest beberapa tahun lalu "kalo Adrian gak bisa kontribusi lagi di erk, maka ERK bubar, karena erk itu Gue, Cholil, Adrian" . salam

  • Comment Link Fadly Adi Permana Thursday, 27 December 2012 10:34 posted by Fadly Adi Permana

    kalianlah sang penyelamat.
    lirik yang sederhana namun luas. dan siap untuk diterjemahkan..

    ditunggu!

  • Comment Link Ermy Rizkawati Saturday, 17 November 2012 07:49 posted by Ermy Rizkawati

    Arogansi yang diperlunak, tidak bermaksud untuk ditahan, tapi dibentuk dengan karya yang berani dan tetap eksotis. Mereka begitu real. Setiap mendengar lagu Banyak Asap di Sana, kenapa hidung saya sesak seperti padat dengan polutan? Dan Balerina, langkah saya seperti terbang, optimisme saya berlebihan dalam menjalani suatu peran kehidupan. Ah, Melankolia itu bukan lagu sedih, tapi lagu untuk pengiring kerinduan. Sempurna!
    ERK membawa perubahan, dunia baru dan keberanian baru. Dimensi baru, yang bisa membawa pendengarnya ikutan berfikir kritis dan 'sadar diri' tanpa harus dengan musik yang 'menyek-menyek'.
    Teruslah menjadi cerdas dan lugas, ERK. Kalian adalah doping kesadaran, keberanian, dan wakil aspirasi kami untuk penguasa. Dan hei Cholil, kenapa kamu begitu sexy setiap live performance lagu Hilang..

  • Comment Link aDAM Saturday, 15 September 2012 18:38 posted by aDAM

    lekas sembuh bang Adrian... & ERK tak pernah mati, tak akan berhenti

  • Comment Link Siti Larasati Monday, 10 September 2012 22:06 posted by Siti Larasati

    Wah... tiga kata itulah yang membuat saya mengenal ERK dan jatuh hati pada ERK.
    ERK hadir si saat yang tepat

  • Comment Link efek dengerin ERK Saturday, 08 September 2012 17:44 posted by efek dengerin ERK

    kemarin perform di semarang keren sekali, saya selaku fans ERK dari jakarta yg kebetulan merantau di semarang mendatangi acara tersebut, puas saya melihat perform kalian, jujur dari dulu saat ERK launching perdana album di soho cafe plasa semanggi beberapa tahun silam saya menghadiri. bukti tulus saya sama ERK, salam buat Adrian semoga lekas sembuh, dan salam buat si soundman bang acho :D. terus berkarya di surga Indonesia

  • Comment Link Bandi Fans ERK Wednesday, 05 September 2012 23:18 posted by Bandi Fans ERK

    saya juga kenalkan ERK di kota saya (PONTIANAK Kalimantan Barat) soalnya masi banyak yang awam dengan ERK

  • Comment Link fernando andri Saturday, 11 August 2012 18:24 posted by fernando andri

    ditunggu albumnya...

  • Comment Link subarkah herman Thursday, 09 August 2012 03:39 posted by subarkah herman

    saya sempat denger di satu media, katanya album mereka yang ketiga mereka lebih ke instrumental tapi tetep masih seperti yang dulu mengangkat topik - topik yang hangat. Menarik untuk di tunggu...

comments powered by Disqus
Login to post comments