Kamar Gelap

Monday, 15 October 2012 09:10 | Read 2613 times | 
Kamar Gelap

dipindahkan dari multiply.com

ditulis oleh Arian Arifin aka Arian 13

25 November 2008 3:55 AM

 

Sukses dengan album pertama, untuk sebuah band akan cukup sulit untuk mengulang sukses dengan album berikutnya: orang akan berekspektasi besar dan menaruh harapan kepada band tersebut. Rasanya tidak salah orang akan berekspektasi begitu besar terhadap album baru Efek Rumah Kaca. Saya mendapatkan versi digital album ini, jadi saya tidak dapat bercerita banyak untuk artwork yang digarap fotografer seni asal Jogja, Angki Purbandono. Tema lirik mereka tetap berusah berbeda dan unik karena masih banyak yang bisa diceritakan daripada sekedar melantunkan tema cinta [ya, kalian band independen juga masih terlalu banyak mengumbar tema cinta!], dengan pemilihan kata-kata yang puitis namun cukup sederhana.

Kamar Gelap lebih variatif, tanpa menghilangkan ciri khas Efek Rumah Kaca. Lebih terasa ‘ceria’ dibandingkan album pertama yang memiliki atmosfer sedikit kelam.
Membuka dengan “Tubuhmu Membiru... Tragis” sepertinya kalau dari flow lagu, Efek Rumah Kaca ingi sedikit mengulang flow yang terdapat di album pertama. Sebagai lagu pertama, terus terang lagu ini tidak terlalu membuat impresi. Hanya saja begitu memasuki track 2, “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa”, kesan pengulangan flow album pertama pupus sudah. Menghentak dan enerjik, Efek Rumah Kaca menampilkan sisi mereka yang lebih rock. Perhatikan part endingnya yang begitu megah. Berikutnya dalam track ”Mosi Tidak Percaya”, Efek Rumah Kaca justru memasukkan sound punk rock ’77, simak riff gitar Cholil yang repetitif dan ketukan drum Akbar. Great song, walau menurut saya singalong part akhir, ”Oi!” yang berulang cukup terduga. Sementara “Hujan Jangan Marah” yang sebelumnya sudah saya kenal karena mereka cukup sering membawakannya secara live, terasa lebih bagus: saya kira selanjutnya ketika mendengarkan lagu ini secara live akan jauh lebih terasa emosinya.

Single pertama mereka pada track 6, “Kenakalan Remaja Di Era Informatika”, adalah lagu yang fun, dengan musikal yang seakan bercanda dengan tema yang kritis. Saya percaya semua telinga akan dengan mudah mencerna lagu ini, dan bahkan mungkin sedikit berdansa dengan lagu ini. “Banyak Asap Disana”, menampilkan ketukan unik Akbar yang cukup bermain dan jazzy. Dalam “Laki Laki Pemalu” Efek Rumah Kaca mencoba bermain sedikit jazzy, dan cukup terdengar seperti sebuah lagu milik Sore. Mungkin kedekatan mereka kini membuahkan pengaruh secara musikal, haha. Album ditutup dengan “Ballerina” yang juga catchy, kalau lagu ini menjadi sebuah single saya tidak akan heran.

“Menjadi Indonesia” merupakan track favorit saya secara personal, bahkan kalau saya memiliki kemampuan untuk mengatur pilihan single kedua, saya akan memilih lagu ini. Saya bukanlah seseorang yang patriotik ataupun nasionalis, karena saya pikir itu hanya akan berguna dalam kegiatan menjadi supporter olahraga, terlebih apa yang telah dilakukan para penguasa negeri ini tidak impresif sama sekali. Tapi mendengarkan “Menjadi Indonesia” terasa bahwa lagu ini memiliki nyawa yang berbeda, tapi khas Efek Rumah Kaca. Lagu ini menyentuh saya, dan dalam. Musik dan lirik. Rasa cinta, berkah, dan tragedi dengan bangsa ini begitu bercampur dan berkecamuk. Ada sesuatu yang terasa di dalam hati setiap mendengarkan lagu ini: haru. Begitu megah, begitu menggugah.

Mungkin itu kata kuncinya, musik dan lirik Efek Rumah Kaca menggugah, menginspirasi. Sesuatu yang jarang dipunyai oleh para band lokal sekarang, dari mainstream sampai mereka yang memilih jalur independen. Passion para musisinya bermain musik tersirat dari lagu-lagunya, rasanya kata ’indah’ menjadi sesuatu yang terlalu sederhana untuk band ini. They are more than that. Tahun-tahun awal saya menjadi jurnalis musik, begitu banyak band yang mengaku mereka bermain jujur dari hati. Entah kenapa, saya tidak pernah percaya karena hasil akhirnya paling tidak untuk telinga saya, terdengar biasa saja. Sama sekali tidak istimewa. Ketika Efek Rumah Kaca hadir, rasanya kejujuran dalam bermusik menjadi begitu berharga. Kamar Gelap membuktikan bahwa musik dan lirik masih bisa dieksplor, dan tetap berada dalam koridor musik pop yang mudah dicerna. Walau untuk telinga saya ada 1-2 lagu yang tidak se-impresif 10 lagu lainnya, tetap saja Kamar Gelap menjadi album pop terbaik yang saya dengarkan tahun ini. Saya tidak membahas semua lagu dalam album ini, karena sebaiknya kalian mendengarkannya sendiri.

Jatuh cinta mungkin memang biasa saja, namun aransemen musik Efek Rumah Kaca jauh dari biasa saja. Highly recommended.

 

 

multiply : http://aparatmati.multiply.com/reviews/item/33

 

 

 

1 comment

  • Comment Link Arie Haryana Thursday, 25 July 2013 20:42 posted by Arie Haryana

    Overall, dari lyric, aransemen musik sampai video klip nya saya suka banget :)
    tapi, kalo saya boleh nebak, di video klip waktu proses develop KLJ nya itu boongan yaa? terus, karya yang di tampilkan pake digital dan bukan pake pinhole asli? :D
    Saya pinholer soalnya. hehe

comments powered by Disqus
Login to post comments